Membuat 1000 ml Larutan Kalium Permanganat 0.1 N ( 0.02 M )

Kalium permanganat ( Potassium permanganat ) merupakan garam yang mengandung ion K+ dan MnO4-dengan rumus kimia KMnO4. Senyawa ini merupakan agen pengoksidasi yang kuat.
Kalium permanganat mudah larut dalam air dan menghasilkan larutan yang berwarna ungu pekat, dan penguapan dari larutan ini meninggalkan kristal prismatik yang berwarna ungu agak hitam.

Kalium permanganat sebagai pengoksidan kuat memiliki banyak kegunaan yaitu :
  1. Sebagai antiseptik, pada larutan encer senyawa ini dapat digunakan sebagai obat sariawan, desinfektan untuk tangan dan pengobatan untuk dermatitis, infeksi jamur pada tangan atau kaki yang bersifat ringan.
  2. Dalam industri pengolahan air digunakan sebagai bahan kimia regenerasi untuk menghilangkan besi dan hidrogen sulfida.
  3. Dalam penggunaan analisis, larutan standar kalium permanganat digunakan sebagai titran pengoksidasi untuk titrasi redoks ( permanganometri ).
Berdasarkan label bahaya yang terdapat pada kemasan, kalium permanganat menimbulkan bahaya iritasi pada saluran pernafasan, hati, ginjal, usus,sistem saraf pusat, dan dapat merusak paru-paru apabila terlalu banyak menghirup senyawa ini. Sebelum membuat larutan kalium permanganat sebaiknya berhati-hati dan gunakan pelindung seperti masker, sarung tangan, dan kacamata pelindung. Hindari kontak langsung dengan mata dan hidung agar tidak terhirup.

Pembuatan 1000 ml Larutan Kalium Permanganat ( KMnO4 ) 0.1 N ( 0.02 M )

Diketahui :
BM KMnO4 = 158.034 gr/mol
valensi  KMnO4 = 5

Ditanya : KMnO4 yang perlu ditimbang...?

Penyelesaian :
Rumus :





Di mana :
N = Normalitas ( molek/L)
gr = Massa yang ditimbang (gr)
BM = Berat Molekul (gr/mol)
V = Volume yang diinginkan (L)
a = nilai valensi 

0.1 N = (gr/ 158.034gr/mol x 1L) x 5
gr = ( 158.034 gr/mol x 1 L x 0.1N ) / 5
gr = 15.8034 / 5
gr = 3.1606 gram
Jadi KMnO4 yang perlu ditimbang untuk membuat KMnO4 0.1 N adalah 3.1606 gram.

Langkah untuk membuat larutan KMnO4 0.1 N :
  1. Timbang dengan tepat KMnO4 sebanyak 3.1606 gram, masukkan dalam gelas piala 1000 ml. Tambahkan aquadest sampai volume 1000 ml. Aduk hingga larut. 
  2. Panaskan larutan tersebut hingga mendidih selama 15 - 30 menit.
  3. Dinginkan pada suhu kamar, kemudian saring dengan krus gooch.
  4. Simpan dalam wadah coklat/gelap dan beri label.

Pembuatan 200 ml Larutan Kalium Permanganat ( KMnO4 ) 0.01%

Larutan kalium permanganat 0.01% artinya dalam setiap 100 gr larutan mengandung 0.01 gram KMnO4.
Untuk membuat larutan KMnO4 0.01 % sebanyak 200 ml adalah :
  1. Timbang 0.02 gram KMnO4, kemudian jadikan volume sampai 200 ml.
  2. Didihkan larutan tersebut selama 15 menit.
  3. Dinginkan dan saring dengan krus gooch.
Larutan KMnO4 0.01% ini biasanya digunakan sebagai antiseptik atau obat luka yang bersifat ringan.





Membuat 500 ml Larutan NaCl 0.1 M ( 0.1 N ) dari Kristal Murni NaCl

Natrium klorida ( sodium chlorida ) atau disebut juga dengan garam dapur dengan rumus kimia NaCl merupakan senyawa kimia berbentuk bubuk kristal padat berwarna putih, tidak berbau dan memiliki rasa asin.

NaCl  merupakan larutan elektrolit yang kuat, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik karena ketika berbentuk larutan NaCl kembali menjadi ion-ion yang dapat bergerak bebas. Ion yang bergerak bebas ini yang dapat menghantarkan arus listrik.
Karena merupakan senyawa ion maka NaCl mudah larut dalam air dingin, air panas, gliserol, dan amoniak, tetapi sukar larut dalam alkohol.

NaCl yang lebih dikenal dengan garam dapur biasa digunakan oleh orang atau dalam bidang industri sebagai penambah rasa pada makanan, bumbu masakan, dan pengawet alami.
NaCl juga digunakan untuk memproduksi senyawa-senyawa seperti natrium karbonat, asam klorida, dan baking soda. Digunakan juga dalam industri tekstil, industri kertas, industri karet, dan industri pemurnian minyak.

Membuat 500 ml Larutan NaCl 0.1 M (0.1N) dari Kristal Murni NaCl

** Alat yang digunakan :
     - Timbangan analitik
     - Gelas piala 250 ml
     - Batang pengaduk
     - Labu takar 500 ml

** Bahan yang digunakan :
     - NaCl ( natrium klorida )/ garam dapur
     - Aquadest

** Cara Membuat Larutan NaCl 0.1 M , 500 ml
  1. Mencari massa NaCl yang dibutuhkan yaitu dengan rumus :
   M  =( gr / Mr x V ), V dalam liter
   0.1 = ( gr / 58.5 gr/mol x 0.5 L )
   gr  = 58.5 x 0.5 x 0.1
   gr  = 2.925 gram
 Jadi NaCl yang harus ditimbang untuk membuat NaCl 0.1 M, 500 ml adalah 2.925 gram.
 2. Langkah Kerja :
 - Timbang NaCl sebanyak 2.925 gram, masukkan dalam gelas piala 250 ml. Tambahkan 
    aquadest 200 ml. Aduk hingga larut.
 - Masukkan larutan ke dalam labu takar 500 ml, tambahkan aquadest sampai tanda          batas. Gojog hingga homogen.
 - Pindahkan larutan NaCl ke dalam botol reagen dan beri label.

Membuat 500 ml Larutan NaCl 10% dari Kristal Murni NaCl

NaCl 10 % artinya dalam 100 ml larutan mengandung 10 gram NaCl.

Jadi untuk membuat NaCl 10%, 500 ml maka NaCl yang harus ditimbang sebanyak 50 gram.

** Cara Membuat :
- Timbang NaCl sebanyak 50 gram, larutkan dengan 200 ml aquadest. Aduk hingga larut.
- Pindahkan larutan ke dalam labu takar 500 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.
- Gojog hingga homogen.
- Diperoleh 500 ml NaCl 10%

Membuat Larutan NaCl Jenuh

Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat.

Untuk membuat larutan NaCl jenuh yaitu :
- Siapkan 100 ml aquadest dalam gelas piala 200 ml.
- Tambahkan NaCl sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai NaCl tidak dapat larut lagi di dalam aquadest.
- Untuk membuat NaCl jenuh dalam 100 ml air dibutuhkan 36.5 gram NaCl.

STANDARISASI Iodium ( I2 ) dengan Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3 )

Iodium tidak mudah larut dalam air ( 0.34 gram per liter pada 25 C ) tetapi mudah larut dalam larutan yang mengandung ion iodida.
Kelemahan pelarut beriodida adalah ion ini dapat teroksidasi oleh O2 dari udara yang dipercepat reaksinya dalam suasana asam atau oleh adaya cahaya., tetapi bersifat lambat dalam suasana netral.
Selain itu, senyawa iodida ( KI ) yang digunakan dipersyaratkan agar bebas dari iodat ( karena iodat bereaksi dengan I - dalam suasana asam dengan membentuk I2 ). Persyaratan ini seharusnya dipenuhi bila larutan I2 dalam KI akan ditetapkan sebagai larutan baku.

Standarisasi Iodium ( I2 ) dengan Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3)

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 250 ml
- Gelas piala 100 ml, 250 ml
- Labu takar 250 ml, 500 ml, dan 50 ml
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Pipet tetes
- Batang pengaduk

Bahan yang digunakan :
- Iodium ( I2 )
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3 )
- Amilum
- Aquadest

** Membuat Larutan Iodium 0.01 N , 500 ml
- Timbang 0.6345 gram iodium + 2 gram KI, masukkan dalam gelas beker 250 ml dan tambahkan aquadest    100 ml. Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar 500 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

** Membuat Larutan Natrium tiosulfat 0.1 N, 250 ml
- Timbang 6.25 gram natrium tiosulfat + 0.2 gram natrium bikarbonat, masukkan dalam gelas piala 250 ml dan tambahkan aquadest 100 ml.  Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan ke dalam labu takar 250 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.

** Membuat Larutan Amilum 1%, 50 ml
-Timbang 0.5 gram amilum/ kanji, larutkan dengan aquadest sampai volume 50 ml.
- Didihkan larutan amilum hingga diperoleh larutan yang agak kental.

** Cara Standarisasi
- Siapkan buret dan isi dengan natrium tiosulfat 0.1 N yang sudah dibakukan/distandarisasi.
- Pipet 25 ml larutan iodium ( I2 ), pindahkan dalam erlenmeyer 250 ml dan encerkan dengan aquadest sampai volumenya 100 ml.
- Titrasi larutan iodium (I2) dengan natrium tiosulfat dan hentikan bila larutan berwarna kuning pucat.
- Tambahkan 5 tetes indikator amilum , homogenkan dan lanjutkan titrasi secara perlahan.
- Hentikan titrasi bila warna biru larutan tepat menghilang.
- Catat volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3x.

** Perhitungan
Diketahui :
Volume I2 = 25 ml
Volume Na2S2O3 = v ml ( volume hasil titrasi )
Na2S2O3 = 0.1 N
N I2 = ....?
Dengan rumus








Contoh :
Dari hasil pengamatan di dapatkan :
V na.tio ul 1 = 2.7 ml
V na tio ul 2 = 2.75 ml
V na tio rata-rata = 2.72 ml

Dengan rumus :
N (I2) = N (na tio)
N1 x V1 = N2 x V2
N1 x 25 ml = 0.1 N x 2.72 ml
N1 = 0.272 / 25
N1 = 0.010 N
Jadi Normalitas I2 adalah 0.010 N

STANDARISASI Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3 )

Larutan Natrium tiosulfat dapat digunakan sebagai larutan baku sekunder untuk standarisasi iodium. Natrium tiosulfat dapat diperoleh dengan mudah dalam keadaan kemurnian yang tinggi, tetapi selalu ada ketidakpastian dari konsentrasi yang kita buat. Untuk itu sebelum digunakan larutan tiosulfat harus distandarisasi terlebih dahulu untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya agar bisa digunakan sebagai larutan baku sekunder.

Standarisasi Natrium tiosulfat ( Na2S2O3 ) dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium dikromat dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganat sebagai larutan standar sekundernya.

Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Iodat

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 125 ml
- Gelas piala 100 ml dan 250 ml
- Labu takar 500 ml, 100 ml, dan 50 ml
- Batang pengaduk
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml dan 25 ml
- Pipet tetes

Bahan yang digunakan :
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3. 5 H2O )
- Kalium iodat ( KIO3 )
- Amilum
- HCl

** Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N, 500 ml
 Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /248.186 x 0.5 ) x 1
gr = 248.186 gr/mol x 0.5 L x 0.1 N
gr = 12.4093 gram
- Timbang 12.4093 gram natrium tiosulfat , larutkan dengan 200 ml aquadest dan tambahkan 0.2 gram natrium bikarbonat ( sebagai pengawet ). Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar volume 500 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda  batas.
Diperoleh : 500 ml natrium tiosulfat 0.1 N

** Membuat Kalium Iodat ( KIO3 ) 0.1 N , 100 ml
Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /214.016 x 0.1 ) x 6
gr = (214.016 gr/mol x 0.1 L x 0.1 N) / 6
gr = 0.3567 gram
- Timbang 0.3567 gram KIO3, larutkan dengan aquadest 50 ml. Aduk hingga larut.
- Masukkan larutan KIO3 ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.
Diperoleh : 100 ml Kalium iodat 0.1 N

** Membuat Larutan HCl 2 N, 100 ml
- Isi labu takar 100 ml dengan aquadest 50 ml.
- Ambil 16.5 ml HCl pekat dengan pipet ukur, pindahkan ke dalam labu takar yang telah diisi aquadest tadi.
- Tambahkan aquadest sampai tanda batas.
 Diperoleh : 100 ml HCl 2 N

Untuk rumus cara menghitung bisa di buka pada artikel sebelumnya : Cara Membuat Larutan HCl 1 N

** Membuat Larutan Indikator Amilum 1%, 50 ml
- Timbang 0.5 gram amilum/kanji, larutkan dalam 50 ml aquadest.
- Didihkan larutan tersebut hingga diperoleh larutan amilum yang agak kental.

** Cara Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Iodat
- Siapkan buret 25 ml dan isi dengan larutan natrium tiosulfat 0.1 N.
- Dipipet 25 ml kalium iodat 0.1 N dan masukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml.
- Ditambahkan 2 gram KI, goyang perlahan - lahan hingga KI larut sempurna.
- Ditambahkan 10 ml HCl 2 N dan segera titrasi dengan natrium tiosulfat.
- Saat warna kuning hampir menghilang, hentikan titrasi dan tambahkan 5 tetes indikator amilum.
- Lanjutkan titrasi sampai warna biru tepat menghilang.
- Catat volume natrium tiosulfat hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

Sebelum ditambahkan HCl larutan KIO3 berwarna bening, dan setelah ditambah HCl 2 N larutan berubah menjadi kuning. Saat warna kuning hampir menghilang, ditambahkan indikator amilum larutan berubah menjadi biru. Setelah warna biru menghilang titrasi dihentikan.

** Perhitungan
Diketahui :
V KIO3 = 25 ml
N KIO3 = 0.1 N
V tio = v ml ( volume hasil titrasi )
N tio = Normalitas tio yang dicari...?

Dengan rumus :








Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Dikromat

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 500 ml
- Gelas piala 100 ml 
- Labu takar 100 ml
- Batang pengaduk
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Pipet tetes


Bahan yang digunakan :
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3. 5 H2O )
- Kalium dikromat ( K2Cr2O7 )
- Amilum
- HCl

** Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N, 500 ml
Cara membuat larutan sama seperti di atas pada standarisasi natrium tiosulfat dengan kalium iodat.

Artikel Sebelumnya : Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N

** Membuat Kalium dikromat ( K2Cr2O7 ) 0.1 N , 100 ml
Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /294.19 x 0.1 ) x 6
gr = (294.19 gr/mol x 0.1 L x 0.1 N) / 6
gr = 0.49 gram
- Timbang 0.49 gram K2Cr2O7, larutkan dengan aquadest 50 ml. Aduk hingga larut.
- Masukkan larutan K2Cr2O7 ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.
Diperoleh : 100 ml Kalium dikromat 0.1 N

Artikel Terkait : Membuat Larutan Natrium Dikromat 0.1 N

** Membuat Larutan HCl 2 N, 100 ml
Cara membuat larutan sama seperti di atas pada standarisasi natrium tiosulfat dengan kalium iodat.

** Membuat Larutan Indikator Amilum 1%, 50 ml
- Timbang 0.5 gram amilum/kanji, larutkan dalam 50 ml aquadest.
- Didihkan larutan tersebut hingga diperoleh larutan amilum yang agak kental.

** Cara Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium dikromat
- Siapkan buret 25 ml dan isi dengan larutan natrium tiosulfat 0.1 N.
- Dipipet 25 ml kalium dikromat 0.1 N dan masukkan ke dalam erlenmeyer 500 ml.
- Ditambahkan 2 gram KI, goyang perlahan - lahan hingga KI larut sempurna.
- Ditambahkan 10 ml HCl 2 N dan encerkan sampai 200 ml.
- Dititrasi dengan natrium tiosulfat 0.1 N hingga berwarna kuning muda.
- Saat warna kuning muda, hentikan titrasi dan tambahkan 5 tetes indikator amilum.
- Lanjutkan titrasi secara perlahan, dan hentikan titrasi saat warna biru menghilang dan warna hijau muda muncul.
- Catat volume natrium tiosulfat hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Perhitungan
Diketahui :
K2Cr2O7 = 25 ml
K2Cr2O7 = 0.1 N
tio = v ml ( volume hasil titrasi )
tio = Normalitas tio yang dicari...?

Dengan rumus :

PENENTUAN KADAR VITAMIN C

Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.Vitamin C memiliki peranan yang sangat penting bagi tubuh kita sebagai antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang dibutuhkan oleh tubuh.
Vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran hijau.

Fungsi dan kegunaan vitamin C bagi tubuh selain sebagai antioksidan yaitu :
  1. Sebagai sistem kekebalan tubuh, menjaga daya tahan tubuh dari serangan virus, bakteri, dan radikal bebas. 
  2. Untuk melancarkan peredaran darah sehingga kulit terasa lebih segar.
  3. Merangsang pembentukan kolagen dan membantu penyerapan zat besi.
Vitamin C atau disebut juga sebagai asam askorbat yang mempunyai rumus kimia C6H8O6. Vitamin C dalam bentuk murni merupakan kristal kuning keputihan yang mudah larut dalam air, memiliki sifat asam dan reduktor yang kuat. Sifat yang paling utama dari vitamin C adalah kemampuan mereduksi yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam terutama Cu dan Ag.

Penentuan kadar vitamin C dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi iodimetri. Titrasi iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai pentiternya. Sedangkan untuk indikatornya menggunakan larutan amilum. Amilum digunakan sebagai indikator karena akan membentuk kompleks iod amilum yang berwarna biru tua meskipun konsentrasi I2 sangat kecil dan molekul iod terikat kuat pada permukaan beta amilosa seperti amilum.
Deteksi titik akhir titrasi pada iodine dengan menggunakan amilum adalah perubahan warna menjadi biru tua.

Penentuan Kadar Vitamin C

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 125 ml
- Labu takar 100 ml
- Pipet ukur 10/ 25 ml
- Pipet ukur 2 ml
- Gelas piala 250 ml
- Batang pengaduk
- Mortar porselin / blender

Bahan yang digunakan :
- Sampel yang akan diuji kadar vitamin C nya.
- Larutan iodium 0.01 N
- Larutan amilum
- Aquadest

Prosedur Kerja

** Pembuatan Larutan Iodium 0.01 N, 1000 ml
- Timbang 1,269 gram I2 + 3 gram KI, masukkan dalam gelas piala 250 ml dan aduk hingga larut.
- Masukkan dalam labu takar 1000 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda batas.
- Pindahkan dalam botol reagen gelap dan tutup rapat.
- Standarisasi larutan I2 dengan Natrium tiosulfat.
  

** Pembuatan Larutan amilum 1%
- Timbang 1 gram amilum dan tambahkan aquadest sampai volume 100 ml.
- Panaskan hingga terbentuk larutan amilum yang agak bening.
  ( Tambahkan beberapa tetes HgI atau HgCl2 agar larutan amilum bisa disimpan beberapa lama)

** Persiapan sampel
- Timbang 200 gram sampel dan hancurkan dengan blender atau bisa juga digerus dengan mortar porselin (   tergantung jenis sampel ) sampai halus.

** Cara Kerja
- Timbang 10 - 30 gram sampel yang sudah dihaluskan, masukkan dalam labu takar 100 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda batas.
- Saring dengan krus gooch atau sentrifuge untuk memisahkan filtratnya.
- Ambil 5 - 25 ml filtrat dengan menggunakan pipet ukur dan masukkan dalam erlenmeyer 125 ml.
- Tambah 2 ml larutan amilum 1%
- Kemudian dititrasi dengan larutan iodium 0.01 N. 
- Hentikan titrasi apabila sudah terjadi perubahan warna ( biru tua ) dan catat volume hasil titrasi.

Skema Cara Kerja :


** Perhitungan
1 ml 0.01N iodium = 0.88 mg asam askorbat
Rumus untuk menghitung kadar vitamin C :





Dimana :
Vol titrasi iodium = volume iodium hasil titrasi 
fp  = faktor pengenceran
mg sampel = sampel yang ditimbang ( dalam mg )

Itulah sedikit ulasan dari saya tentang bagaimana menentukan kadar vitamin C pada makanan, buah, atau sayuran. Semoga bermanfaat, jangan lupa share untuk berbagi ilmu. Untuk pertanyaan, saran, dan kritik silahkan tinggal komentar di bawah.

DAFTAR ACUAN

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhadi. 1984. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi Ketiga. Yogyakarta : Liberty.





OVEN MEMMERT : Cara Menggunakan Oven

Oven merupakan salah satu alat yang sering digunakan dan dijumpai di laboratorium. Pada artikel ini akan saya bahas tentang bagaimana cara mengoperasikan oven ( oven yang saya maksud disini adalah oven Memmert UN 55 ), oven ini merupakan oven model baru dengan tombol - tombolnya yang sudah touch screen ( ga mau kalah sama android ya :) )


Oven adalah alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur kadar air. Selain itu juga digunakan untuk mengeringkan zat-zat kimia, pelarut organik, dan untuk mengeringkan atau mensterilkan alat-alat gelas laboratorium.

 Tidak semua alat gelas laboratorium bisa dikeringkan dengan oven,hanya alat gelas tertentu yang dapat dikeringkan dengan oven, yaitu alat gelas yang memiliki ketelitian rendah. Contoh alat gelas yang bisa dikeringkan dengan oven adalah gelas piala/beker glass, erlenmeyer, petridish/cawan petri, dan tabung reaksi.

Sedangkan alat gelas dengan ketelitian tinggi tidak dapat dikeringkan dengan oven karena alat tersebut akan memuai jika dipanaskan dan mengakibatkan ketelitian alat tersebut tidak lagi akurat. Contoh : labu takar, pipet ukur,dan  pipet volum.

Untuk zat-zat kimia yang boleh dikeringkan dengan oven adalah zat-zat kimia yang tidak mudah meledak saat dipanaskan dan tidak mengeluarkan uap atau gas beracun. Contoh zat kimia yang boleh dikeringkan dengan oven adalah kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4), natrium klorida (NaCl), natrium oksalat ( Na2C2O4).

Bagian - Bagian Oven :













Keterangan gambar :
No 1 = tombol on/off
No 2 = tombol untuk mengaktifkan pengatur suhu
No 3 = tombol untuk mengaktifkan pengatur waktu
No 4 = tombol untuk mengatur suhu/waktu yang diinginkan
No 5 = tombol untuk mengonfirmasi
No 6 = tombol untuk mengaktifkan pengatur menu

Pengoperasian Oven

Alat oven hanya boleh dioperasikan dan dirawat oleh petugas/laboran yang telah diberi petunjuk mengenai tata cara pemakaian oven. Petugas yang akan menjalani pelatihan, yang diberi petunjuk, atau yang menjalani pelatihan umum hanya boleh bekerja dengan alat dibawah pengawasan dari orang yang berpengalaman.

Cara Menggunakan Oven Memmert UN 55 :

  1. Bersihkan oven sebelum digunakan.
  2. Tancapkan stekker ke stop kontak.
  3. Tekan tombol on/off ( pada no.1) dan tunggu beberapa saat.
  4. Untuk pengaturan suhu, sentuh pada tombol no.2 kemudian putar pada tombol no.4 untuk mengatur suhu yang diinginkan dan tekan no.5 untuk mengonfirmasi.
  5. Untuk pengaturan waktu, sentuh pada tombol no.3, kemudian putar pada tombol no.4 untuk mengatur waktu yang diinginkan dan tekan no.5 untuk mengonfirmasi.
  6. Untuk mengatur menu sentuh pada bagian no.6 .
  7. Masukkan sampel ke dalam oven.
  8. Setelah selesai matikan oven dengan menekan tombol on/off, ambil sampel dengan menggunakan sarung tangan.
  9. Cabut stekker kabel dan setelah dingin bersihkan oven.

Perawatan Oven

Untuk memaksimalkan kerja oven dan memperpanjang umur oven perlu dilakukan perawatan oven secara rutin. Selalu bersihkan oven setelah selesai digunakan. Bersihkan bagian dalam oven dengan kain lembut dan jangan menggunakan zat abrasif untuk membersihkan oven. Jangan mengelap bagian elemen pemanas. Untuk bagian luar dibersihkan dengan lap basah.

Apabila oven mengalami gangguan fungsi dan kerusakan, segera hentikan penggunaan alat oven ini dan matikan oven. Cabut stekker dari sumber listrik. Hubungi teknisi untuk perbaikan.

RUMUS Mol, Molalitas, Molaritas, Normalitas

Dalam bidang kimia ada beberapa satuan yang sering digunakan untuk menyatakan konsentrasi larutan ( banyaknya zat terlarut dalam sejumlah pelarut ).
Beberapa satuan konsentrasi itu antara lain : mol, molalitas, molaritas, normalitas, ppm, persen massa, persen volum.

Berikut akan saya jelaskan pengertian dan rumus dari satuan-satuan di atas :

1. Mol ( n )           
Simbol satuan : n
Mol adalah massa (gram) suatu zat dibagi dengan massa molekul relatif / berat molekul suatu zat.
Rumus :
Dimana :
n = mol suatu zat (mol)
gr = massa suatu zat (gr)
Mr = massa molekul relatif suatu zat (gr/mol)

Mol ekivalen adalah jumlah mol dikali dengan jumlah ion H+ atau ion OH-
Apabila mol zat terlarut mengandung a ion H+ atau ion OH-, maka rumus mol ekivalen adalah
Dimana : a = ekivalen suatu zat


untuk kimia asam, 1 mol ekivalen = 1 mol ion H+
untuk kimia basa, 1 mol ekivalen = 1 mol ion OH-

Contoh :
1. Berapa jumlah mol dari 4 gram NaOH dengan Mr = 40 gr/mol ?
    n = 4 / 40 = 0.1 mol
2. Berapa jumlah mol ekivalen dari 8 gram NaOH ?
    mol ekivalen = n x a
                          = 8/40 x 1 = 0,2 mol ek

2. Molalitas ( m )
Simbol satuan : m
Molalitas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.
Rumus :








Dimana :
m = molalitas suatu zat ( molal )
n = mol suatu zat ( mol )
p = massa pelarut ( gr )

Contoh :
1. 40 gram NaOH dilarutkan dalam 2 kg air, Mr NaOH = 40 gr/mol. Berapa molalitas NaOH ?
m = n/p
m = ( 40 x 1000 ) / ( 40 x 2000 )
    = 40000/ 80000 = 0.5 molal

3. Molaritas ( M )
Simbol satuan : M
Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan atau 1 mmol zat terlarut dalam 1 ml larutan. Satuan molaritas adalah mol/L.
Rumus :




Dimana :
M = molaritas suatu zat (mol/L)
gr =  massa suatu zat (gram)
Mr = massa molekul relatif suatu zat (gr/mol)
V = volume larutan (ml)

Contoh :
1. NaOH 1 M artinya bahwa untuk setiap 1 liter (1000 ml) larutan ini mengandung 1 mol NaOH ((atau 40 gram NaOH).
2. 117 gram NaCl ( Mr =58.5gr/mol) dilarutkan dengan aquadest sampai volume 500 ml. Berapa M NaCl ?
M = (gr x1000) / (Mr x V)
M = ( 117 x1000) / (58.5 x 500)
M = 4 mol/L

4. Normalitas ( N )
Simbol satuan : N
Normalitas adalah jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan. Satuan normalitas adalah mol ek/L.
Rumus :




Dimana :
N = normalitas ( mol ek/L)
n = mol suatu zat (mol)
a = ekivalen suatu zat
V = volume larutan (liter)

Contoh :
1. KOH sebanyak 28 gram dilarutkan dengan aquadest sampai volume 1000 ml ( 1 liter ), Mr KOH=56 gr/mol. Berapa normalitas KOH ?
N = (n x a) / V
N = (gr x a) / (Mr x V)
N = (28 x 1) / (56 x1)
N = 0.5 mol ek/L

5. Part Per Million ( ppm )
Simbol satuan = ppm
Part per million (ppm) atau dalam bahasa indonesia bagian per juta (bpj) adalah satuan konsentrasi yang menyatakan perbandingan bagian dalam 1 juta bagian yang lain.
ppm dinyatakan dengan satuan mg/kg atau mg/L.

Contoh :
1. Suatu air minum mengandung besi sebesar 3 ppm artinya bahwa setiap 1 liter air minum tersebut ( massa jenis air =1) mengandung 3 mg besi.

Artikel terkait : Konversi ppm ke persen

6. Persen Massa
Simbol satuan : % (b/b)






Contoh :
1. NaOH 40% (massa) diartikan bahwa dalam setiap 100 gram larutan ini mengandung 40 gram NaOH.
2. 20 ml H2SO4 95% ( massa jenis=1.834) terlarut dalam 100 ml air ( massa jenis air=1), maka konsentrasi larutan asam sulfat dalam % dapat ditentukan dengan perhitungan berikut :






7. Persen Volum
Simbol satuan : % (v/v)






Contoh :
1. Alkohol 75% (volum) diartikan bahwa dalam setiap 100 ml larutan ini mengandung 75% alkohol dan 25% air.
2. 25 ml alkohol 96% dicampur dengan air 75 ml, maka konsentrasi larutan alkohol dapat ditentukan dengan perhitungan berikut :






STANDARISASI H2SO4


Seperti pada artikel sebelumnya ( Standarisasi HCl ) dijelaskan bahwa standarisasi diperlukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dari suatu larutan.

Standarisasi Larutan H2SO4

Standarisasi larutan H2SO4 dapat dilakukan dengan menggunakan :
  • Larutan baku natrium tetraborat / boraks
  • Larutan baku natrium hidroksida
Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Pipet volum 10 ml
- Pipet tetes
- Erlenmeyer 100 / 125 ml

Bahan yang digunakan :
- H2SO4 pekat (96%)
- Natrium tetraborat
- Natrium hidroksida
- Indikator MO dan PP

Standarisasi Larutan H2SO4 0.1 M ( 0.2 N ) dengan Natrium tetraborat/Boraks

** Membuat larutan H2SO4 0.1 M (0.2 N) sebanyak 1 liter
- Masukkan aquadest kira-kira 500 ml ke dalam labu takar 1000 ml.
- Ambil H2SO4 pekat dengan menggunakan pipet ukur sebanyak 6 ml, masukkan ke dalam labu  takar tadi.
- Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

Diperoleh : Larutan H2SO4 0.1 M , 1 Liter.

** Membuat larutan baku primer natrium tetraborat/boraks 0.05 M (0.1N) sebanyak 100 ml
dengan rumus :
M = gr/ (Mr x V)
0.05 M = ( gr / ( 381.647 gr/mol x 0.1 L )
gr = (381.647 x 0.1 L x 0.05 M)
gr = 1.908 gram.
- Timbang dengan tepat boraks sebanyak 1.908 gram, larutkan dengan aquadest dalam gelas piala 50 ml.
- Pindahkan larutan ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

** Membuat larutan NaOH 0.1 M sebanyak 1 liter
- Timbang 4 gram NaOH, masukkan dalam gelas piala 100 ml. Tambahkan aquadest, aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan NaOH tersebut ke dalam labu takar 1000 ml. Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
- Kemudian standarisasi larutan NaOH 0.1 M tersebut. Untuk cara standarisasi NaOH bisa baca artikel : Standarisasi Larutan NaOH

** Cara Standarisasi
- Isi buret dengan larutan H2SO4 0.1 M.
- Dipipet 25 ml boraks 0.05 M, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Tambahkan 2 tetes indikator MO.
- Kemudian dititrasi dengan larutan H2SO4 0.1 M sampai terjadi perubahan warna
- Catat volumenya dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2B4O7 + H2SO4 + 5 H2O -------> Na2SO4 + 4 H3BO3
M boraks = 0.05 M
V boraks = 25 ml
V H2SO4 = v ml
M H2SO4 = .....?













Standarisasi Larutan H2SO4 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Hidroksida ( NaOH )

** Cara Standarisasi
  1. Isi buret dengan larutan baku NaOH 0.1 M 
  2. Pipet 25 ml larutan H2SO4 0.1 M ke dalam erlenmeyer 125 ml.
  3. Tambahkan 2 tetes indikator PP.
  4. Titrasi larutan H2SO4 tersebut dengan NaOH 0.1 M. Hentikan titrasi apabila terjadi  perubahan warna.
  5.  Catat Volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : H2SO4 + 2 NaOH -----> Na2SO4 + 2 H2O
M NaOH = 0.1 M
V NaOH = v ml ( volume hasil titrasi )
V H2SO4 = 25 ml
M H2SO4 = ....?











DAFTAR ACUAN

HAM, Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

STANDARISASI HCl

Dalam membuat larutan dengan konsentrasi tertentu seringkali dihasilkan konsentrasi yang tidak tepat. Untuk itu diperlukan standarisasi larutan.
Standarisasi dilakukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dari suatu larutan. Standarisasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi asam basa yaitu proses penambahan larutan standar dengan larutan asam.

Larutan Baku Primer dan Sekunder

Standarisasi larutan dilakukan dengan menggunakan larutan baku primer atau dengan larutan baku sekunder.
Larutan baku adalah larutan yang sudah diketahui dengan pasti konsentrasinya. Larutan baku ada dua macam yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder.

Larutan baku primer adalah larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu : 
  • memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, 
  • kering, stabil, tidak higroskopis,
  • mudah larut dalam air, dan 
  • mempunyai massa ekivalen yang tinggi. 
Pada pembuatan larutan baku primer penimbangan harus teliti dan dilarutkan dengan volume yang tepat dengan menggunakan labu takar. Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku primer adalah Natrium tetraborat ( boraks ), asam benzoat, dan asam oksalat.

Larutan baku sekunder adalah larutan yang zat terlarutnya tidak harus zat yang memiliki tingkat kemurnian tinggi. Larutan baku sekunder konsentrasinya ditentukan berdasarkan standarisasi dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer. Zat yang dapat digunakan sebagai larutan baku sekunder adalah natrium hidroksida ( NaOH ) dan asam klorida ( HCl ). Larutan baku sekunder umumnya tidak stabil sehingga perlu distandarisasi ulang setiap minggu.

Standarisasi Larutan HCl 

Standarisasi larrutan HCl dapat dilakukan dengan menggunakan :
  • larutan baku natrium tetraborat / boraks ( Na2B4O7.10H2O )
  • larutan baku natrium carbonat ( Na2CO3 )
  • larutan baku natrium hidroksida ( NaOH )
Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Pipet volum 10 ml
- Pipet ukur 5 ml
- Pipet tetes
- Gelas piala/ gelas beker 50 ml dan 500 ml
- Erlenmeyer 100/125 ml

Bahan yang digunakan :
- HCl pekat ( 37 % )
- Boraks
- Natrium carbonat
- Natrium hidroksida
- Indikator MO dan PP

Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Tetraborat / Boraks

** Membuat Larutan HCl 0.1 M sebanyak 1000 ml
Ambil HCl pekat ( 37% ) sebanyak 9 ml, masukkan  ke dalam labu takar 1000 ml yang sebelumnya telah diberi aquadest. Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
Untuk cara menghitungnya bisa buka artikel sebelumnya di Cara Membuat Larutan HCl

** Membuat larutan boraks 0.05 M ( 0.1 N )
dengan rumus :
M = gr/ (Mr x V)
0.05 M = ( gr / ( 381.647 gr/mol x 0.1 L )
gr = (381.647 x 0.1 L x 0.05 M)
gr = 1.908 gram.
- Timbang dengan tepat boraks sebanyak 1.908 gram, larutkan dengan aquadest dalam gelas piala 50 ml.
- Pindahkan larutan ke dalam labu takar, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen

** Membuat larutan indikator Metil Orange ( MO )
untuk membuat larutan MO silahkan buka link ini Membuat Larutan Indikator pada nomor 20.

** Cara Standarisasi
- Isi buret dengan larutan HCl 0.1 M.
- Dipipet 25 ml boraks 0.05 M, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Tambahkan 2 tetes indikator MO.
- Kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0.1 M sampai terjadi perubahan warna ( dari kuning menjadi merah ).
- Catat volumenya dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2B4O7 + 2 HCl + 5 H2O -----> 2 NaCl + 4 H3BO3
M boraks = 0.05 M
V boraks = 25 ml
V HCl = a ml ( volum rata-rata dari 3x ulangan )
M HCl = ....?











Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Carbonat ( Na2CO3 )

** Cara Standarisasi 
  1. Timbang botol timbang kosong + tutup. catat hasilnya.
  2. Timbang 0,2 gram Na2CO3 kering dalam botol timbang bertutup. 
  3. Pindahkan Na2CO3 tersebut ke dalam erlenmeyer 100 ml.
  4. Timbang lagi botol timbang + tutup ( perbedaan antara penimbangan awal dan akhir merupakan berat Na2CO3 yang terpindahkan ke erlenmeyer).
  5. Masukkan aquadest 50 ml ke dalam erlenmeyer yang berisi Na2CO3 tersebut. Aduk hingga larut sempurna.
  6. Beri 2 tetes indikator MO
  7. Titrasi dengan larutan HCl 0,1 M. Hentikan titrasi apabila sudah terjadi perubahan warna ( dari kuning menjadi merah muda ).
  8. Catat volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2CO3 + 2 HCl ------> 2 NaCl + H2O + CO2
Mr Na2CO3 = 105,994 gr/mol
Massa Na2CO3 = a gram
Vol HCl hasil titrasi = v ml = v liter ( satuan diubah ke dalam liter )
M HCl = ....?
 Dengan menggunakan rumus perbandingan mol :













Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Hidroksida ( NaOH )

** Cara Standarisasi
  1. Isi buret dengan larutan baku NaOH 0.1 M ( untuk cara membuat larutan NaOH dan standarisasinya bisa di buka pada artikel Cara Membuat Larutan NaOH 0,1 M dan Standarisasi Larutan NaOH ).
  2. Pipet 25 ml larutan HCl 0.1 M ke dalam erlenmeyer 125 ml.
  3. Beri 2 tetes indikator PP.
  4. Titrasi larutan HCl tersebut dengan NaOH 0.1 M. Hentikan titrasi apabila warna merah muda yang muncul tidak menghilang (selama 15 detik ) oleh pengocokan.
  5.  Catat Volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : NaOH + HCl -----> NaCl + H2O
V HCl = 25 ml
V NaOH = v ml ( volume hasil titrasi )











Itulah beberapa cara standarisasi HCl. Semoga artikel ini bermanfaat, jika ada yang ingin menyampaikan saran, masukan, atau pertanyaan bisa komentar pada kolom di bawah ini. Terimakasih.

DAFTAR ACUAN

HAM, Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

Membuat Larutan Kalium Sulfat ( K2SO4 ) 0.5 M

Kalium sulfat ( K2SO4) atau disebut juga garam abu sulfur adalah senyawa kimia yang berbentuk kristal putih dan mudah larut dalam air. Kalium sulfat tidak mudah terbakar.

Kalium sulfat ini biasanya digunakan untuk bahan pembuatan pupuk  (menyediakan potassium dan sulfur). Dalam laboratorium digunakan sebagai reagen kimia.


Membuat Larutan K2SO4 0.5 M sebanyak 1000 ml

Diketahui :
BM K2SO4 = 174,27 gr/mol

Rumus Molaritas 
M = gr / ( BM x Vol )
0,5 = gr/ ( 174,27 x 1 L ) , vol dalam liter 
gr = 174,27 x 1 x 0,5
gr = 87,14 gram
Jadi K2SO4 yang dibutuhkan adalah 87,14 gram.

Cara Membuat Larutan K2SO4 0,5 M :
  1. Timbang 87,14 gram K2SO4, masukkan dalam gelas piala 250 ml dan tambahkan aquadest. Aduk hingga larut sempurna.
  2. Pindahkan larutan K2SO4 tersebut ke dalam labu takar 1000 ml, kemudian tambahkan dengan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
  3. Pindahkan ke dalam botol reagen dan beri label.

Membuat Larutan K2SO4 0.5 N sebanyak 1000 ml

Diketahui :
elektron valensi = 2

Rumus Normalitas
N = (gram / BM x Vol ) x valensi
0,5 = ( gram / 174,27 x 1 L ) x 2
gram = ( 174,27 x 1 x 0,5 )/ 2
gram = 87,14 / 2
gram = 43,57 gram
Jadi K2SO4 yang dibutuhkan adalah 43,57 gram.

Cara Membuat Larutan K2SO4 0,5 N :
  1. Timbang K2SO4 sebnayak 43,57 gram, masukkan ke dalam gelas piala 250 ml.
  2. Larutkan dengan aquadest. Aduk hingga larut sempurna.
  3. Pindahkan larutan K2SO4 ke dalam labu takar 1000 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
  4. Pindahkan ke dalam botol reagen dan beri label.

Membuat Larutan K2SO4 10 % sebanyak 500 ml

Larutan K2SO4 10 % artinya dalam 100 ml larutan mengandung 10 gram K2SO4.

Untuk membuat larutan K2SO4 10 % sebanyak 500 ml yaitu timbang 50 gram K2SO4 dan larutkan dengan aquadest sampai volume 500 ml.


MIKROPIPET : Cara Menggunakan Mikropipet

Mikropipet atau sering disebut dengan pipet otomatis adalah suatu alat laboratorium yang digunakan untuk pengukuran volume yang sangat kecil secara akurat dalam satuan µl ( mikroliter ). Mikropipet biasanya digunakan di laboratorium biologi atau kedokteran.


Fungsi Mikropipet

Sama seperti dengan fungsi pipet ukur atau pipet volum , fungsi mikropipet ini adalah untuk memindahkan larutan atau cairan dari satu tempat ke tempat yang lainnya, tetapi untuk volume yang sangat kecil ( dibawah 1 ml ). Penggunaan pipet ukur dibawah 1 ml tidak memiliki akurasi yang tinggi sehingga orang cenderung menggunakan mikropipet yang mempunyai akurasi dan presisi yang lebih baik dari pipet ukur. Dengan mikropipet dapat diatur volumenya sesuai yang diinginkan selama masih dalam skala volume pipet tersebut.

Bagian - Bagian Mikropipet

Mikropipet mempunyai beberapa bagian penting yaitu :
  1. Plunger button/ tombol penekan, yang berfungsi untuk memompa larutan atau cairan dengan cara menekan tombol tersebut.
  2. Tips ejector button, yang berfungsi untuk melepaskan tips setelah selesai digunakan dengan cara menekan tombol tersebut.
  3. scale volume/skala volume, bagian yang menunjukkan angka/ volume pengambilan cairan sesuai yang diinginkan. untuk mengatur volume putar-putar bagian bawah plunger button ( pada gambar kiri )
  4. Shaft/ batang ujung mikropipet, yang berfungsi untuk menghubungkan mikropipet dengan tips.
  5. Pipette tips, yang berfungsi untuk menampung larutan atau cairan yang dipipet. Pemilihan tip sangat penting untuk menentukan keakuratan dalam pemipetan. Penggunaan tip sebaiknya disesuaikan dengan merek yang sama dengan pipetnya karena tidak semua pipet cocok dengan semua tip yang tersedia.

Jenis-Jenis Mikropipet

Berdasarkan volumenya, mikropipet terdiri atas 3 jenis yang umum digunakan di laboratorium yaitu :
  1. Mikropipet P1000, mikropipet yang biasa digunakan untuk mengambil cairan dengan volume 100µl - 1000µl.
  2. Mikropipet P200, mikropipet yang biasa digunakan untuk mengambil cairan dengan volume 20µl - 200µl.
  3. Mikropipet P20,  mikropipet yang biasa digunakan untuk mengambil cairan dengan volume 2µl - 20µl.

Cara Menggunakan Mikropipet

1. Mengatur volume sesuai yang diinginkan
Pada bagian mikropipet selalu dilengkapi dengan pengatur volume yang terletak di bagian kepala pipet.     Untuk mengatur volume yang diinginkan, tinggal memutar-mutar bagian kepala pipet dan memperhatikan angka yang tercantum pada bagian tengah mikropipet.

2. Memasang tips
Pemilihan tip sangat penting untuk menentukan keakuratan dalam pemipetan, dan penggunaan tip disesuaikan dengan merek yang sama dengan pipetnya karena tidak semua pipet cocok dengan tip yang tersedia.
cara memasang tips yaitu tancapkan ujung mikropipet dengan tips yang sesuai, dan pastikan tips sudah terpasang dengan benar.

3. Mengambil dan mengeluarkan sampel

  • Setelah tips terpasang, tekan tombol knob sampai hambatan pertama ( setengah tekanan ), jangan ditekan lebih dalam lagi. 
  • Masukkan mikropipet sampai tercelup ke dalam larutan sampel. Lepaskan tekanan dari tombol knob secara perlahan-lahan sampai cairan tertarik ke dalam mikropipet dan jangan sampai ada gelembung udara.
  • Pindahkan larutan sampel ke dalam wadah yang lainnya dengan cara menekan tombol knob sampai hambatan kedua ( tekanan penuh ). 
  • Lepaskan tips dengan cara menekan tombol tips ejector button.

Cara Merawat Mikropipet

    Mikropipet adalah alat yang telah dirancang akurat dan presisi oleh pabriknya. Tetapi jika digunakan di laboratorium mikropipet harus tetap dikalibrasi, karena dengan dikalibrasi akan menjamin keakuratannya.
Selain itu perawatan atau pemeliharaan mikropipet juga sangat penting untuk menjaga agar alat tersebut awet dan tidak mudah rusak.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merawat atau pemeliharaan  mikropipet adalah sebagai berikut :

  • Membersihkan mikropipet sebelum dan sesudah pemakaian dengan menggunakan alkohol.
  • Mensterilkan komponen mikropipet yang dapat disterilkan dengan menggunakan alat autoclave.
  • Jangan menggunakan mikropipet tanpa menggunakan tips.
  • Jangan menggunakan tips bekas untuk sampel yang berbeda karena dapat menyebabkan kontaminasi. Gantilah tips setiap berganti sampel.
  • Mengecek secara rutin kondisi mikropipet.
Sebelum menggunakan mikropipet sebaiknya perhatikan hal-hal berikut ini :
  • Jangan menggunakan mikropipet melebihi ukuran maksimalnya karena dapat menyebabkan ketidakakuratan ukuran mikropipet.
  • Ketika mengambil tips jangan menekan terlalu keras dan jangan terlalu lemah juga karena tips bisa jatuh.
  • Ketika menekan tombol mikropipet jangan melebihi penghentian normalnya karena larutan yang diambil menjadi berlebih.
  • Saat mengambil larutan sampel jangan melepas tombol penekan secara tiba-tiba karena akan menyebabkan larutan sampel masuk ke dalam pipet sehingga mempengaruhi keakuratan ukuran mikropipet.
  • Jangan menaruh pipet sembarangan saat masih ada larutan dalam tips di ujung pipet karena larutan dapat masuk ke dalam pipet dan menyebabkan kontaminasi.


Cara Membuat Larutan Asam Fosfat ( H3PO4 ) 3 M dan 3 N


Asam orthofosfat atau lebih dikenal dengan nama asam fosfat ( dalam bahasa inggris Orthophosporic acid ) merupakan asam lemah yang berbentuk cairan bening agak kental dengan rumus kimia H3PO4.
Berdasarkan simbol yang tertera pada kemasan asam fosfat ini memiliki sifat korosif yang menyebabkan luka bakar. Dalam meggunakan asam fosfat ini harus hati-hati, hindari kontak langsung dengan kulit dan mata, berbahaya jika tertelan, melalui inhalasi dan saluran pernafasan.

Di dalam laboratorium asam fosfat ini biasa digunakan sebagai reagen kimia. Dalam industri kosmetik digunakan sebagai pengatur pH, dalam bidang pertanian digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk.


Cara Membuat Larutan Asam Fosfat (H3PO4) 3 M sebanyak 1000 ml

Diketahui :
massa jenis = 1,71 g/ml ( lihat botol kemasan )
konsentrasi = 85%         ( lihat botol kemasan )
berat molekul (BM) = 98 g/mol

Dicari berat Molaritas asam fosfat 85%...???

** Molaritas asam fosfat 85 % dapat diketahui dengan menggunakan rumus :

M = ( massa jenis x 10 x % ) / BM
M = ( 1,71 x 10 x 85 ) / 98
M = 14,8
Jadi molaritas asam fosfat 85% adalah 14,8 M.

** Menghitng volume yang dibutuhkan asam fosfat 85% untuk membuat asam fosfat 3 M yaitu dengan menggunakan rumus pengenceran :

M1 x V1 = M2 x V2
14,8 M x V1 = 3 M x 1000 ml
V1 = 3000/14,8
V1 = 202,7 ml
Jadi volume asam fosfat 85% yang diambil adalah 202,7 ml.

Cara membuat asam fosfat 3 M adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan gelas piala 500 ml dan isi dengan aquadest 150 ml.
  2. Ambil asam fosfat sebanyak 202,7 ml dan masukkan dalam gelas piala yang telah diisi dengan aquadest tadi. Aduk hingga homogen.
  3. Pindahkan larutan asam fosfat tersebut ke dalam labu ukur 1000 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
  4. Pindahkan larutan ke dalam botol reagen dan beri label.
Catatan : dalam membuat larutan asam fosfat ini lakukan di dalam lemari asam dan gunakan masker.

Cara Membuat Larutan Asam Fosfat ( H3PO4) 3 N sebanyak 1000 ml

Diketahui :
elektron valensi asam fosfat = 3

Dicari Normalitas asam fosfat 85%...???

** Mencari Normalitas asam fosfat 85% dengan rumus :
N = ((massa jenis x 10 x %) x valensi) / BM
N = (( 1,71 x 10 x 85 ) x 3) / 98
N = 4360,5/98
N = 44,49
Jadi normalitas asam fosfat 85% adalah 44,49 N.

** Untuk mencari volume yang dibutuhkan untuk membuat larutan asam fosfat 3 N dengan menggunakan rumus pengenceran :
N1 x V1 = N2 x V2
44,49 x V1 = 3N x 1000 ml
V1 = 3000/ 44,49
V1 = 67,4 ml
Jadi volume asam fosfat 85% yang dibutuhkan untuk membuat asam fosfat 3 N adalah 67,4 ml.

Cara membuat asam fosfat 3 N adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan gelas piala 500 ml dan isi dengan aquadest 150 ml.
  2. Ambil asam fosfat sebanyak 67,4 ml dan masukkan dalam gelas piala yang telah diisi dengan aquadest tadi. Aduk hingga homogen.
  3. Pindahkan larutan asam fosfat tersebut ke dalam labu ukur 1000 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
  4. Pindahkan larutan ke dalam botol reagen dan beri label.

Demikian sedikit ulasan dari saya tentang bagaimana membuat larutan asam fosfat. Jika ada yang tidak jelas bisa tinggalkan komentar di bawah. Semoga artikel ini bermanfaat, share ke teman-teman ya readers...



Membuat Larutan Asam Nitrat ( HNO3) 3 M dan 0.5 N

Asam nitrat (dalam bahasa inggris disebut nitric acid ) atau disebut juga dengan nama asam sendawa dengan rumus kimia HNO3 adalah bahan kimia yang bersifat korosif, berbentuk cairan bening tidak berwarna. Asam nitrat merupakan asam yang beracun dan dapat menyebabkan luka bakar apabila terkena kulit kita.

Asam nitrat harus disimpan di dalam botol reagen yang berwarna gelap karena asam nitrat akan berubah warna menjadi kekuning-kuningan jika botolnya sering dibuka atau terkena cahaya.

Karena bersifat korosif dan sebagai pengoksidasi maka harus hati-hati dalam menggunakan bahan kimia ini. Botolnya dapat meledak jika disimpan ditempat yang panas, jika tumpah dapat menyebabkan korosi pada logam, dapat membakar kertas dan kayu. Uapnya sangat beracun.

Di dalam laboratorium asam nitrat biasanya digunakan sebagai reagen. Asam nitrat ini juga digunakan untuk memproduksi bahan yang mudah meledak seperti nitrogliserin, trinitrotoluena (TNT), dan juga untuk bahan membuat ammonium nitrat.

Cara Membuat Larutan Asam Nitrat 3 M ( 3N ) dari Asam Nitrat 65% sebanyak 1000 ml

karena asam nitrat memiliki valensi 1 maka nilai molaritas = nilai normalitas
Diketahui :
 massa jenis = 1,40 gr/ml
Kemurnian = 65 % ( lihat dalam kemasan botol )
Berat molekul = 63,01 gr/mol

Ditanyakan : Molaritas asam nitrat 65%....?

** Mencari nilai molaritas asam nitrat 65%, dengan rumus :
M = ( massa jenis x 10 x % ) / Mr
M = ( 1,40 x 10 x 65 ) / 63,01
M = 14,4 

** Setelah diketahui molaritas asam nitrat 65%, maka dengan rumus pengenceran dapat dicari  volume yang dibutuhkan asam nitrat 65% untuk membuat asam nitrat 3 M yaitu :
M1 x V1 = M2 x V2
14,4 x V1 = 3M x 1000 ml
V1 = 3000/ 14,4
V1 = 208,3 ml
Jadi volume yang dibutuhkan sebanyak 208,3 ml.

** Langkah membuat asam nitrat 3 M adalah :
  1. Ambil asam nitrat ( HNO3) sebanyak 208,3 ml. Masukkan dalam gelas piala ukuran 500 ml yang sebelumnya telah diisi aquadest. Aduk hingga homogen
  2. Pindahkan larutan ke dalam labu takar ukuran 1000 ml dengan hati-hati, dan tambahkan aquadest sampai tanda batas.
  3. Pindahkan segera ke dalam botol reagen gelap (coklat) dan beri label.

Cara Membuat Larutan Asam Nitrat 0,5 N  dari Asam Nitrat 65% sebanyak 1000 ml

Diketahui : nilai normalitas asam nitrat 65% adalah 14,4 N.

Dengan menggunakan rumus pengenceran :
N1 x V1 = N2 x V2
14,4 x V1 = 0,5N x 1000 ml
V1 = 500/14,4
V1 = 34,7 ml
Jadi volume yang dibutuhkan/ diambil dari asam nitrat 65% adalah 34,7 ml.

Langkah untuk membuat asam nitrat 0,5 N sama dengan langkah diatas ( cara membuat asam nitrat 3 M ).

SIMBOL BAHAN KIMIA Berbahaya

Bahan-bahan kimia yang berada di laboratorium banyak yang berbahaya, baik bagi manusia atau bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu untuk menghindari kecelakaan kerja di laboratorium bahan-bahan kimia yang berbahaya diberi simbol yang bertujuan untuk memberikan keterangan mengenai sifat bahaya bahan kimia tersebut. Simbol bahaya pada bahan kimia digunakan untuk pelabelan pada bahan-bahan berbahaya menurut Peraturan Tentang Bahan Berbahaya.

Sebelum menggunakan bahan-bahan kimia di laboratorium sebaiknya kita pelajari dan pahami makna simbol-simbol bahaya yang terdapat pada wadah bahan kimia.

Berikut ini beberapa simbol tanda bahaya yang terdapat pada wadah bahan kimia :

1. Bahan yang bersifat iritasi ( iritant )


Bahan kimia yang ditandai dengan simbol tanda seru berwarna hitam dengan garis tepi berwarna merah memiliki sifat iritant/iritasi, bahan kimia cairan atau padatan dengan simbol ini jika terjadi kontak secara langsung atau terus-menerus dengan kulit dapat menyebabkan iritasi/peradangan.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah iodine, toluene, petroleum benzine, benzyl alkohol, hidrogen peroksida, kalium hidroksida, calsium nitrat.

Tindakan pencegahan : hindari agar tidak terkena kulit atau kontak langsung dengan tubuh.

2. Bahan yang bersifat mudah terbakar ( flammable )


Bahan kimia yang ditandai dengan simbol nyala api berwarna putih dan hitam dengan garis tepi berwarna merah memiliki sifat mudah terbakar atau mudah menyala.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah acetone, petroleum benzene, toluene, ethanol, methanol, N- hexane, diethyl ether, calsium nitrat.

Tindakan pencegahan : jauhkan dari benda-benda yang berpotensi mengeluarkan api.

Simbol ini menunjukkan bahwa suatu bahan memiliki sifat sebagai berikut :
  • Pada bahan kimia padatan  mudah terbakar jika kontak dengan sumber nyala api. 
  • Bahan kimia padatan dan cairan yang memiliki titik nyala di bawah 0 derajat Celcius dan memiliki titik didih lebih rendah atau sama dengan 35 derajat Celcius.
  • Gas yang mudah terbakar pada suhu dan tekanan normal.
  • Mengeluarkan gas yang sangat mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya jika terjadi kontak dengan air atau udara lembab.
  • Cairan yang mengandung alkohol dan pada titik nyala dibawah 60 derajat Celcius akan menyala jika terjadi kontak dengan api.
3. Bahan yang bersifat racun ( toxic )

Bahan kimia yang ditandai dengan simbol gambar tengkorak dan tulang bersilang dengan garis tepi berwarna merah memiliki sifat beracun bagi manusia dan dapat menyebabkan sakit serius bahkan kematian bila tertelan atau terhirup. 

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah chloroform, methanol,kalium dikromat, timbal asetat.

Tindakan pencegahan : jangan sampai terhirup, tertelan, dan hindari kontak langsung dengan kulit.

4. Bahan yang bersifat karsinogenik, teratogenik, dan mutagenik (carcinogenic, tetragenic, mutagenic)

Bahan kimia yang ditandai dengan simbol gambar kepala dan dada manusia berwarna hitam dan gambar menyerupai bintang segi enam berwarna putih pada dada menunjukkan jika terpapar dalam jangka panjang, jangka pendek, atau berulang dengan bahan kimia ini dapat menyebabkan efek kesehatan sebagai berikut :
a. Karsinogenik ( penyebab sel kanker ),
b. Teratogenik yaitu sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio.
c.  Mutagenik yaitu sifat bahan yang menyebabkan perubahan kromosom yang berarti dapat merubah genetika.

d. Gangguan saluran pernafasan, toksisitas terhadap sistem reproduksi dan organ sasaran spesifik.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah toluene, methanol, N-hexane, chloroform, petroleum benzene.
Tindakan pencegahan :  jangan sampai terhirup, tertelan, dan hindari kontak langsung dengan kulit. 

5. Bahan yang bersifat korosif ( corrosive )

Bahan kimia yang ditandai dengan simbol berupa 2 gambar yang tertetesi cairan korosif dengan garis tepi tebal berwarna merah menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut memiliki sifat menyebabkan iritasi /terbakar pada kulit, perih jika terkena pada kulit yang luka, merusak jaringan tubuh manusia, dan menyebabkan proses pengkaratan pada logam atau baja.

 Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah hydrochloric acid ( HCl ), sulfuric acid ( H2SO4), ammonia, asam nitrat, phosphoric acid, asam asetat glasial, kalium hidroksida, natrium hidroksida, kalium nitrat, besi III klorida ( feCl3).

Tindakan pencegahan : hindari kontak langsung dengan kulit dan mata, jangan sampai terhirup, dan jauhkan dari benda-benda logam karena dapat menyebabkan korosi.

6. Bahan yang bersifat berbahaya bagi lingkungan ( dangerous for environment )

Bahan kimia yang ditandai dengan simbol berupa gambar pohon dan media lingkungan berwarna hitam serta ikan berwarna putih ini menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi lingkungan, merusak atau menyebabkan kematian pada ikan atau organisme lain, dan menyebabkan kerusakan ekosistem.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah ammonia, N- hexane, petroleum benzene, timbal asetat ( pb asetat ), kalium dikromat, iodine.

Tindakan pencegahan : hindari bercampur dengan lingkungan yang dapat membahayakan lingkungan hidup, atau hindari pembuangan langsung ke lingkungan.

7. Bahan yang bersifat pengoksidasi ( oxidizing )

Bahan kimia yang ditandai dengan simbol berupa gambar bola api berwarna hitam yang menyala menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut dapat melepaskan panas dan menimbulkan api ketika bereaksi dengan bahan kimia lainnya, terutama bahan kimia yang mudah terbakar.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah natrium nitrat, kalium dikromat, kalium iodat, ammonium nitrat, hidrogen peroksida.

Tindakan pencegahan : hindarkan dari panas serta bahan-bahan yang mudah terbakar dan bahan yang memiliki titik api rendah.



8. Bahan yang bersifat berbahaya ( harmful )

Bahan kimia dengan simbol berupa gambar silang tebal berwarna hitam menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut baik yang berupa padatan, cairan, atau gas jika terjadi kontak atau melalui inhalasi/oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu, menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan pernafasan.

Contoh bahan kimia dengan simbol ini adalah iodine, dietyl ether, petroleum benzene, natrium karbonat, kalsium klorid, peridin.

Tindakan pencegahan : hindari kontak langsung dengan kulit, mata, dan jangan sampai terhirup.


Itulah beberapa simbol bahan kimia yang dapat saya jelaskan. Bagi yang bekerja di laboratorium jaga kesehatan dan keamanan dengan memahami simbol bahan kimia berbahaya diatas.
Semoga bermanfaat...