-->

Penetapan Kadar Abu dan C-Organik Pada Pupuk Organik

Penetapan kadar abu di lakukan dengan cara pengabuan pada suhu 550 - 600 ºC, sehingga bahan organik menjadi CO2 dan logam menjadi oksida logamnya. 


Berat bahan yang hilang merupakan bahan organik yang dapat dikonversi menjadi kadar C-Organik setelah dikalikan faktor 0,58.



PENETAPAN KADAR ABU DAN C-ORGANIK

Alat :
  • Neraca analitik
  • Cawan porselen
  • Desikator
  • Furnace
Prosedur Kerja :
  • Sampel pupuk bekas penetapan kadar air ( Penetapan kadar air pupuk ) dimasukkan ke dalam furnace.
  • Sampel mula - mula diabukan pada suhu 300 ºC selama 1,5 jam dan selanjutnya pada suhu 550 - 600 ºC selama 2,5 jam. Matikan furnace dan biarkan semalam. ( perhatian : furnace tidak boleh langsung dibuka setelah dimatikan, harus menunggu esok hari karena akan menyebabkan kerusakan pada furnace )
  • Dinginkan sampel dalam desikator dan timbang. ( catat sebagai d )
** Catatan :
Jadi dalam penetapan kadar abu ini didapatkan 4 data yaitu :
  • a = berat cawan kosong
  • b = berat cawan yang berisi sampel
  • c = berat cawan yang berisi sampel setelah di oven
  • d = berat cawan yang berisi sampel setelah di furnace
Perhitungan :







Dimana :
W2 = berat abu dalam gram ( d - a )
W   = berat sampel dalam gram ( b - a )
fk   = faktor koreksi kadar air = 100/(100-% kadar air)
0,58= faktor konversi bahan organik ke C-organik

Contoh :
1. Berapa kandungan kadar abu dan C-Organik pada pupuk organik apabila diketahui data sebagai berikut :
  • berat cawan kosong (a) = 18,5341 gram
  • berat cawan kosong + sampel (b) = 20,8049 gram
  • berat cawan yang berisi sampel setelah di oven (c) = 20,6216 gram
  • berat cawan yang berisi sampel setelah di furnace (d) = 19,4132 gram
Penyelesaian :

** Mencari nilai W dan W2, yaitu :
W = b - a = 20,8049 - 18,5341 = 2,2708 gram
W2 = d - a  = 19,4132 - 18,5341 = 0,8791 gram

** Mencari kadar air untuk mendapatkan nilai faktor koreksi, yaitu :
Kadar Air = ( 20,8049 - 20,6216 ) / ( 20,6216 - 18,5341 ) x 100
kadar air = ( 0,1833 / 2,0875 ) x 100
kadar air = 8,7808 %

Faktor koreksi = 100 / ( 100 - 8,7808 ) = 100 / 91,2192 = 1,0962 

** Mencari kadar abu dengan menggunakan rumus diatas, yaitu :
Kadar Abu = W2/W x fk x 100
                   = 0,8791/2,2708 x 1,0962 x 100
                   = 42,4374 %

** Mencari nilai bahan organik dan C-Organik, yaitu :
Bahan Organik = ( W - W2 )/ W x fk x 100
                         = ( 2,2708 - 0,8791 ) / 2,2708 x 1,0962 x 100
                         = 1,3917/ 2,2708 x 1,0962 x 100
                         = 67, 1825 %

C-Organik = bahan organik x 0,58
                  = 67,1825 x 0,58
                  = 38,9658 %

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah,Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

PENETAPAN KADAR AIR PADA PUPUK ORGANIK

Kadar air adalah presentase kandungan air dalam suatu bahan seperti tanah, pupuk, bahan pangan pertanian, bebatuan, dan sebagainya.


Penetapan Kadar Air Pupuk Organik

A. Prinsip

     Air dalam sampel pupuk organik diuapkan dengan cara pengeringan oven pada suhu 105 ºC selama semalam ( 16 jam ).

B. Alat
  • Neraca analitik
  • Botol timbang
  • Oven
  • Desikator
C. Prosedur Kerja
  • Nyalakan timbangan dan tekan zero, tunggu sampai angka menunjukkan 0,0000 gram. Letakkan botol timbang ke dalam pan dan catat berat kosong botol timbang ( catat sebagai a ).
  • Tambahkan sampel pupuk kira-kira mempunyai berat 2 - 5 gram ke dalam botol timbang. Catat berat botol timbang yang berisi sampel pupuk ( catat sebagai b ).
  • Kemudian masukkan ke dalam oven dan dikeringkan selama semalam pada suhu 105 ºC.
  • Dinginkan dalam desikator dan timbang ( catat sebagai c ).
  • Simpan sampel ini untuk penetapan kadar abu dan bahan organik dengan cara pengabuan.
D. Perhitungan




Dimana :
a = Berat botol timbang kosong dalam gram
b = Berat botol timbang yang berisi sampel dalam gram
c = Berat botol timbang yang berisi sampel setelah di oven dalam gram
100  = faktor konversi ke %

Faktor koreksi kadar air ( fk ) = 100 /(100 - % kadar air )
( Faktor koreksi ini digunakan dalam perhitungan analisa selain kadar air ).

Contoh :

1. Hitung kadar air suatu sampel pupuk organik apabila diketahui data sebagai berikut :
    - Berat botol timbang ( a ) = 9,8877 gram
    - Berat botol timbang yang berisi sampel ( b )= 12, 0576 gram
    - Berat b setelah di oven ( c ) = 11,9879 gram

Penyelesaian :
Dengan menggunakan rumus kadar air, maka 
kadar air = ( 12,0576 - 11,9879 ) / ( 11,9879 - 9,8877 ) x 100
kadar air = ( 0,0697 / 2,1002 ) x 100
kadar air = 3,3187 %

Jadi kandungan kadar air dalam pupuk organik tersebut adalah 3,3187 %

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah,Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor.


Penentuan Asam Lemak Bebas ( ALB) atau FFA

Asam Lemak Bebas ( ALB ) atau Free Fatty Acid ( FFA ) adalah asam yang dibebaskan pada hidrolisa lemak. Penentuan asam lemak bebas penting dilakukan untuk mengetahui kualitas dari lemak atau minyak. Semakin tinggi asam lemak bebas dalam minyak maka semakin rendah kualitas minyak tersebut.


Penentuan Asam Lemak Bebas

Alat :
  • Timbangan analitik
  • Erlenmeyer asah
  • Buret 25 ml
  • Waterbath
  • Pendingin tegak
  • Pipet ukur 2 ml
  • Gelas ukur 50 ml
  • Gelas piala
  • Pengaduk kaca
Bahan :
  • Larutan NaOH 0,1 N yang sudah distandarisasi
  • Indikator PP 1%, larutkan 1 gram phenolphthalein ke dalam 100 ml alkohol 70%.
  • Aquadest
  • Alkohol netral
Cara Kerja :
  1. Sampel diaduk merata dan berada dalam keadaan cair.
  2. Timbang sampel sebanyak 5 gram dan masukkan ke dalam erlenmeyer.
  3. Tambahkan alkohol netral sebanyak 50 ml.
  4. Hubungkan erlenmeyer dan pendingin tegak, kemudian panaskan erlenmeyer yang berisi larutan tersebut ke dalam waterbath selama 30 menit ( kira- kira sampai sampel larut ). 
  5. Setelah sampel larut matikan waterbath dan dinginkan larutan dalam erlenmeyer sampai suhu kamar.
  6. Tambahkan 2 ml indikator phenolphthalein (PP).
  7. Titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N (yang sudah distandarisasi) sampai warna merah jambu tercapai dan tidak hilang selama 30 detik.
  8. Catat volume hasil titrasi.
Asam lemak bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat paling banyak dalam minyak tertentu. Dengan demikian asam lemak bebas sebagai berikut ini dapat dipakai sebagai tolok ukur jenis minyak tertentu :

No
Sumber Minyak
Jenis Asam Lemak
Berat Molekul ( BM )




1
Susu, Sawit
Palmitat
256
2
Inti Sawit, Kelapa
Laurat
200
3
Susu
Oleat
282
4
Jagung, Kedelai, Kacang
Linoleat
278

Perhitungan :





Keterangan :
ml NaOH = volume titrasi NaOH yang dibutuhkan
BM asam lemak = berat molekul asam lemak ( lihat pada tabel diatas )

Baca Juga :

Angka Asam = mg KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan 1 gram (1000 mg) sampel.
Untuk merubah % FFA menjadi angka asam, maka menggunakan rumus sebagai berikut :






Contoh :
% FFA = 0,4 %
BM KOH = 56
BM asam lemak oleat = 282

Maka angka asam untuk oleat = ( 0,4% x 56 ) / ( 282/10 ) = 22,4 / 28,2 = 0,794
Angka asam 0,794, artinya untuk menetralkan 1 gram sampel dibutuhkan sebanyak 0,794 mg KOH.
Misalnya sampel yang dianalisa sebanyak 5 gram maka KOH yang dibutuhkan adalah 0,794 mg/gram x 5 gram = 3,97 mg KOH.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarmadji, S. dkk. 1984. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

Penentuan Kadar Protein Metode Kjedahl

Protein merupakan komponen yang banyak terdapat pada sel tanaman dan hewan. Protein merupakan sumber gizi utama yaitu sebagai sumber asam amino.

Penentuan kadar protein dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode kjedahl, metode biuret, metode lowry, metode pengikatan zat warna dan metode titrasi formol.

Pada artikel ini hanya akan dibahas penentuan kadar protein dengan menggunakan metode kjedahl. Metode ini sangat umum digunakan dan dapat digunakan untuk analisis protein semua jenis bahan pangan. Prosedur penetapannya tidak membutuhkan biaya mahal ( kecuali bila digunakan sistem automatis ) dan hasilnya cukup akurat. Salah satu kelemahan dari metode ini adalah metode ini tidak hanya mengukur nitrogen pada protein tetapi juga nitrogen dari non protein. Oleh karena itu, perlu digunakan faktor konversi dalam perhitungan.


Penentuan Kadar Protein Metode Kjedahl

Alat : 
  • Alat destilasi
  • Timbangan analitik
  • Labu didih
  • Erlenmeyer 100/125 ml
  • Buret 10 atau 25 ml
Bahan :

>> Asam sulfat pekat ( 95 - 97% )
>> Selenium

>> Asam Borat 1%
    Timbang 1 gram asam borat kemudian larutkan dengan aquadest sampai volume 100 ml.

>> Natrium hidroksida ( NaOH ) 40%
     Timbang 400 gram NaOH dalam gelas piala 600 ml. Aduk hingga larut. Setelah dingin tambah aqudeat sampai volume 1000 ml.

>> Penunjuk Conway 
    Timbang 0,1 gram metil merah ( metil red ) dan 0,150 gram hijau bromkresol ( bromcresol green ) kemudian larutkan dengan 200 ml etanol 96%.

>> Larutan baku asam sulfat ( H2SO4 ) 0,05 N
     Pipet 1,4 ml H2SO4 pekat kemudian encerkan dengan aquadest sampai volume 1000 ml.

Cara Standarisasi asam sulfat bisa dilihat pada artikel : Standarisasi H2SO4

Cara Kerja :

Destruksi
  1. Timbang sampel 0,2 - 0, 5 gram ( tergantung jenis sampel ). Masukkan ke dalam labu didih.
  2. Tambahkan 1 gram selenium dan 3 ml H2SO4 pekat ( jika kadar protein tinggi digunakan 5 ml asam sulfat ).
  3. Destruksi hingga didapat ekstrak jernih.
  4. Tabung diangkat, didinginkan, kemudian ekstrak diencerkan dengan aquadest hingga volume 50 ml. Kocok sampai homogen. 
Destilasi
  1. Pindahkan secara kualitatif seluruh ekstrak sampel ke dalam labu didih ( yang berada dalam alat destilasi ), tambahkan NaOH 40% sebanyak 20 ml dan secepatnya ditutup.
  2. Siapkan penampung untuk NH3 yaitu erlenmeyer yang berisi 10 ml asam borat 1% yang ditambah indikator conway 3 tetes ( berwarna merah muda). Kemudian dihubungkan dengan alat destilasi.
  3. Destilasi dihentikan apabila volume dalam erlenmeyer mencapai 75 ml (berwarna hijau).
Titrasi
  1. Siapkan buret 25 ml dan diisi dengan H2SO4 0,05 N.
  2. Titrasi larutan tersebut sampai terjadi perubahan warna ( dari warna hijau menjadi warna merah muda ).
  3. Catat volume hasil titrasi.
** Buat juga larutan blanko dengan mengganti sampel dengan aquadest, lakukan destruksi, destilasi, dan titrasi seperti langkah diatas.

** Larutan pentitar selain menggunakan H2SO4 bisa juga menggunakan HCl 0,02 N.

Perhitungan :








Keterangan :
V sampel   = ml titar sampel
V blanko   = ml titar blanko
N H2SO4  = normalitas H2SO4 ( 0,05 N )
bst N         = berat setara nitrogen ( 14,008 )
100            = konversi ke persen

Tabel Faktor konversi untuk mengkonversi persen nitrogen menjadi protein

No
Bahan
Faktor
Konversi



1
Campuran
6,25
2
Daging
6,25
3
Maizena
6,25
4
Roti, gandum, makaroni, bakmi
6,25
5
Susu dan produk susu
6,38
6
Tepung
5,70
7
Telur
6,68
8
Gelatin
5,55
9
Kedelai
5,71
10
Beras
5,95
11
Kacang tanah
5,46

DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N dkk. 2011. Analisis Pangan. Dian Rakyat. Jakarta.

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah,Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

Penetapan pH Tanah, Air, dan Pupuk

pH adalah tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan, zat atau benda dan diukur pada skala 0 sampai 14. Nilai pH kurang dari 7 maka larutan tersebut bersifat asam, nilai pH 7 larutan bersifat netral, dan pH lebih dari 7 larutan bersifat basa.

Penentuan nilai pH dapat dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu :
  1. Metode elektrometris, yaitu menentukan nilai pH dengan menggunakan alat pH meter. Metode ini dianggap paling tepat. Metode elektrometris ini konsentrasi ion hidrogen larutan diimbangi dengan elektroda hidrogen baku atau elektroda yang mempunyai fungsi yang sama.
  2. Metode warna, yaitu menentukan nilai pH dengan menggunakan indikator universal (pH universal ). Metode ini sangat mudah dan sederhana tapi kurang tepat daripada metode elektrometris.

Penentuan pH Tanah

Penentuan pH tanah  ada 2 macam yaitu pH aktual (pH H2O) dan pH potensial (pH KCl). Penentuan pH secara aktual dilakukan dengan senyawa H2O dan pH yang terukur merupakan nilai konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah. Sedangkan pH potensial dilakukan dengan senyawa KCl. pH potensial nilainya lebih kecil daripada pH aktual karena senyawa KCl mampu mendesak ion H+ yang berada didalam tanah, ion H+ yang ada terdesak keluar sehingga konsentrasi H+ dalam larutan tanah meningkat mengakibatkan nilai pH turun.

Alat : 
  • pH meter
  • Timbangan analitik
  • Mesin pengocok/shaker
  • Erlenmeyer 100 ml
  • Botol semprot 50 ml
Bahan :
  • Larutan buffer pH 10,7 dan 4
  • H2O
  • KCl 1 M, Timbang KCl 7,45 gram kemudian larutkan dengan aquadest sampai volume 100 ml.
Cara Kerja :

pH H2O
  1. Timbang sampel tanah 10 gram.
  2. Sampel tanah yang sudah ditimbang dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan 50 ml aquadest ( perbandingan sampel : aquadest = 1 : 5 ).
  3. Kocok dengan shaker selama 30 menit.
  4. Larutan tanah tersebut diukur dengan pH meter yang sudah dikalibrasi (dengan buffer 10, 7 dan 4).
  5. Catat nilai pH yang terbaca pada alat.
pH KCl
  1. Timbang 10 gram sampel tanah.
  2. Sampel tanah yang sudah ditimbang dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan 50 ml KCl ( perbandingan sampel : KCl 1 M = 1 : 5 )
  3. Kocok dengan shaker selama 30 menit.
  4. Larutan tanah tersebut diukur dengan pH meter yang sudah dikalibrasi.
  5. Catat nilai pH yang terbaca pada alat.

Penentuan pH Air

Alat : 
  • pH meter
  • Gelas piala 200 ml
  • Botol semprot 500 ml
Bahan :
  • Buffer pH 10, 7, dan 4 (untuk kalibrasi pH meter).
Cara Kerja :
  1. Pindahkan sampel cair ke dalam gelas piala kira - kira 100 ml.
  2. Masukkan elektroda ke dalam sampel dan catat nilai pH yang terbaca pada alat.
  3. Bilas elektroda dengan aquadest dan keringkan dengan tisu sebelum pengukuran sampel yang lainnya.

Penentuan pH Pupuk

Alat : 
  • pH meter
  • Timbangan analitik
  • Mesin pengocok/shaker
  • Erlenmeyer 100 ml
  • Botol semprot 50 ml
Bahan :
  • Larutan buffer pH 10,7 dan 4
  • H2O
Cara Kerja :
  1. Timbang sampel pupuk 10 gram.
  2. Sampel pupuk yang sudah ditimbang dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan 50 ml aquadest ( perbandingan sampel : aquadest = 1 : 5 ).
  3. Kocok dengan shaker selama 30 menit.
  4. Larutan sampel tersebut diukur dengan pH meter yang sudah dikalibrasi (dengan buffer 10, 7 dan 4).
  5. Catat nilai pH yang terbaca pada alat.

Penetapan P dan K Cara Pengabuan Basah Dengan HNO3 dan HClO4

Penetapan unsur makro dan mikro pada jaringan tanaman dan pupuk organik dapat dilakukan dengan cara pengabuan basah menggunakan campuran asam nitrat pekat ( HNO3) dan asam perklorat ( HClO4). Kemudian ekstrak yang didapat diukur dengan menggunakan spektrofotometer Uv Vis dan AAS.


Penetapan P dan K Cara Pengabuan Basah
( Ekstak HNO3 + HClO4 )

Alat 
  • Timbangan analitik
  • Spektrofotometer UV Vis
  • Tabung reaksi 15 ml
  • Labu kjedahl 50 ml
  • Tabung dan block digestor kjedahl therm
  • Pipet volume 10 ml
  • Pipet ukur 10 ml dan 1 ml
  • Erlenmeyer 50 ml dan 200 ml
  • Gelas piala 200 ml
  • Labu takar 50 ml/100ml/200 ml

Pereaksi 

>> HNO3 pekat ( 65% ) p.a
>> HClO4 pekat ( 60% ) p.a

>> Standar 0 ( larutan HClO4 0,6% )
 Dipipet 1 ml HClO4 pekat (60%) ke dalam labu ukur 100 ml yang sebelumnya telah diisi aquadest 50 ml, kocok sebentar dan tambahkan lagi aquadest sampai tanda batas (volume 100 ml).

>> Pereaksi P pekat
Larutkan 12 gram (NH4)MO7O24.4H2O ( ammonium heptamolibdat ) dengan 100 ml aquadest dalam gelas piala. Tambahkan 0,277 gram H2O (SbO) C4H4O6.0,5 K ( antimoni kalium tartrate ) dan secara perlahan140 ml H2SO4 pekat. Pindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 1 liter dan tambahkan aquadest sampai tanda batas.

>> Pereaksi Pewarna P
Campurkan 1.06 gram asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat. Kemudian jadikan volume 1000 ml dengan penambahan aquadest. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru

>> Standar P
Timbang 4,39 gram KH2PO4 (kering oven 105 °C selama 1 jam) larutkan dengan aquadest sampai volume 1 liter ( larutan ini mengandung 1 mg/ml P atau 1000 ppm P).
Ambil 20 ml larutan tersebut dan larutkan dengan aquadest sampai volume 1 liter ( larutan ini mengandung 0,02 mg/ml P atau 20 ppm P ).

Cara Kerja :
  1. Ditimbang dengan teliti 0,5 gram sampel pupuk/tanaman yang telah dihaluskan dan dimasukkan ke dalam labu kjedahl.
  2. Tambahkan 5 ml HNO3 dan 0,5 ml HClO4, kocok dan biarkan semalam.
  3. Panaskan pada block digestor mulai suhu 100 ˚C, setelah uap kuning habis suhu dinaikkan hingga 200 ˚C. Destruksi diakhiri apabila sudah keluar uap putih dan cairan dalam labu tersisa sekitar 0,5 ml.
  4. Dinginkan larutan ekstrak dan diencerkan dengan aquadest hingga volume tepat 50 ml. Apabila masih terlalu pekat diencerkan hingga volume 100 ml atau 200 ml ( tergantung jenis sampel ).
  5. Kocok larutan tersebut hingga homogen dan saring dengan kertas saring W-41 agar didapat ekstrak jernih ( Ekstrak A ).
  6. Pipet 1 ml ekstrak A dan deret standar masing - masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 ml larutan pereaksi pewarna P.
  7. Larutan divortex dan dibiarkan selama 30 menit, lalu ukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm.
Ekstrak A ini dapat digunakan untuk pengukuran unsur – unsur makro : P, K, Ca, Mg, Na, S dan unsur - unsur mikro : Fe, Al, Mn, Cu, Zn, dan B.

 Pembuatan deret standar

Dipipet standar P dan standar 0 hingga masing - masing deret standar 1 ml


No
Standar P
Standar 0
total

(ml)
(ml)
(ml)
1
0
1
1
2
0,1
0,9
1
3
0,2
0,8
1
4
0,4
0,6
1
5
0,6
0,4
1
6
0,8
0,2
1
7
1,0
0
1


Perhitungan :

Diketahui Konsentrasi P dalam KH2PO4 adalah 0,020 mg/ml P atau 20 ppm.

Keterangan :
mg/ml kurva = kadar sampel yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar         dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko.
fp = faktor pengenceran
100 = konversi ke persen
fk = faktor koreksi kadar air ( 100/ (100+kadar air )


DAFTAR ACUAN

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah,Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor.


Penetapan Fosfor ( P2O5 ) Tersedia Metode Bray I

Penentuan fosfor metode Bray I yaitu dengan menggunakan ekstrak NH4F 0.03 N dan larutan 0.025 N HCl. NH4F yang terkandung dalam pengekstrak Bray akan membentuk senyawa rangkai dengan Fe dan Al dan membebaskan ion PO4 (3-). Metode Bray I ini biasanya digunakan untuk tanah dengan pH < 5,5 atau tanah masam.

Penentuan Fosfor (P2O5) Tersedia Metode Bray I

Alat :
  • Timbangan analitik
  • Spektrofotometer UV-Vis
  • Shaker atau mesin penggojog
  • Erlenmeyer 50 ml
  • Tabung reaksi 15 ml
  • Pipet volume 10 ml
  • Pipet ukur 2 ml
  • Gelas beaker/gelas piala 100 ml
  • Labu takar 50 ml dan 1000 ml
Pereaksi :

>> HCl 5 N
Diambil sebanyak 41,6 ml HCl pekat (37%) kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml yang sebelumnya telah diisi aquadest 50 ml.kocok dan tambahkan aquadest sampai volume 100 ml.

>> Pengekstrak Bray dan Kurts I ( larutan 0,025 N HCl + NH4F 0,03 N )
Timbang 1,11 gram NH4F, dilarutkan dengan aquadest 500 ml. Di tambahkan 5 ml HCl 5 N kemudian diencerkan sampai volume 1 liter.

>> Pereaksi P pekat
Larutkan 12 gram (NH4)MO7O24.4H2O ( ammonium heptamolibdat ) dengan 100 ml aquadest dalam gelas piala. Tambahkan 0,277 gram H2O (SbO) C4H4O6.0,5 K ( antimoni kalium tartrate ) dan secara perlahan140 ml H2SO4 pekat. Pindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 1 liter dan tambahkan aquadest sampai tanda batas.

>> Pereaksi Pewarna P
Campurkan 1.06 gram asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat kemudian jadikan volume 1000 ml dengan penambahan aquadest. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru.

>> Standar P
Timbang 4,39 gram KH2PO4 (kering oven 105 °C selama 1 jam) larutkan dengan aquadest sampai volume 1 liter ( larutan ini mengandung 1 mg/ml P atau 1000 ppm P).
Ambil 20 ml larutan tersebut dan larutkan dengan aquadest sampai volume 1 liter ( larutan ini mengandung 0,02 mg/ml P atau 20 ppm P ).


Cara Kerja :
  1. Ditimbang sampel tanah 2,5 gram (diameter 2mm) kemudian ditambahkan 25 ml pengekstrak Bray I.
  2. Gojog larutan sampel tersebut dengan shaker selama 5 menit.
  3. Saring larutan sampel dengan kertas saring berlipat dan ekstrak ditampung ke dalam erlenmeyer. Bila larutan keruh dikembalikan lagi ke atas saringan semula.
  4. Pipet 2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung reaksi dan bersama deret standar ditambahkan 10 ml pereaksi pewarna P. Kocok hingga homogen dan biarkan 30 menit. Absorbansi larutan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm.
Pembuatan Deret Standar

Dipipet standar P dan ekstrak Bray I hingga jumlah masing-masing deret standar 2 ml

No
Standar P
Ekstrak Bray I
total

(ml)
(ml)
(ml)
1
0
2
2
2
0,2
1,8
2
3
0,4
1,6
2
4
0,8
1,2
2
5
1,2
0,8
2
6
1,6
0,4
2
7
2,0
0
2


Perhitungan :

Diketahui Konsentrasi P dalam KH2PO4 adalah 0,020 mg/ml P atau 20 ppm.
Contoh kurva hasil standar


No
Standar P
Konsentrasi P
mg/ml
Absorbansi
λ = 889 nm
1
0
0
0
2
0,2
0,004
0,213
3
0,4
0,008
0,320
4
0,8
0,016
0,507
5
1,2
0,024
0,687
6
1,6
0,032
0,888
7
2
0,04
1,043

Didapatkan grafik sebagai berikut 

Cara Membuat Grafik : Cara Membuat Grafik Kurva Standar

Dari grafik di atas di dapatkan persamaan y = 24,898x + 0,0815 ( R2 = 0,9866 )

Maka x dapat diketahui dengan cara :
x ( mg/ml) = ( y – 0,0815 ) / 24,898
x =...mg/ml

Rumus untuk menghitung P2O5 tersedia Bray I :





Keterangan :
mg/ml  kurva  = kadar sampel yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar          dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko.
fp                  = faktor pengenceran
2,29              = konversi P ke P2O5
100               = konversi ke persen
fk                 = faktor koreksi kadar air ( 100/ (100+KL 2mm )

Kriteria penelitian hasil analisis tanah :

Parameter
Nilai
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
P2O5 Bray ( % )
< 0.0004
0.0005 - 0.0007
0.0008 - 0.0010
      0.0011 - 0.0015
> 0.0015
P2O5 Bray (ppm )
< 4
5 – 7
8 – 10
11 – 15
> 15


DAFTAR ACUAN

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah,Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor.Hal 20-21.

Bray, R.H. and L.T. Kurtz. 1945. Determination of total organik and available forms of phosphorus in soils. Soil Sci. 59: 39 – 45.


Artikel ini tersedia dalam bentuk pdf, silahkan download linknya di bawah ini

DOWNLOAD

CATATAN :
Mohon mencantumkan sumber / link ini, hargailah karya orang lain. Jangan asal copas.
Terimakasih.