-->

Standarisasi / Pembakuan Asam Asetat

Asam Asetat atau sering juga disebut asam cuka merupakan senyawa organik golongan asam alkanoat. Asam asetat mempunyai rumus kimia C2H4O2 atau sering ditulis CH3COOH.

Standarisasi atau pembakuan asam asetat dapat dilakukan dengan menggunakan larutan baku sekunder NaOH 0,1 M.

Sebelum melakukan pembakuan/standarisasi yaitu membuat larutan asam asetat yang akan dibakukan. contoh pada artikel ini yaitu pembakuan asam asetat 0,1 M ( 0,1 N ).



Pembuatan 1 Liter Asam Asetat 0,1 M ( 0,1 N )

Diketahui :
Konsentrasi asam asetat glasial = 100 %
Molaritas asam asetat glasial = 17,4 M
( Untuk lebih detail cara menghitungnya bisa klik link Membuat Asam Asetat 1 M )

Dari perhitungan didapatkan volume asam asetat glasial yang dibutuhkan untuk membuat asam asetat 0,1 M yaitu 6 ml.

Cara Membuat :
  • Siapkan aquades kira-kira 900 ml, masukkan ke dalam labu takar 1000 ml.
  • Pipet 6 ml asam asetat glasial kemudian masukkan ke dalam labu takar yang berisi aquades tadi.
  • Tambahkan aquades sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
  • Larutan asam asetat 0,1 M siap digunakan.

Pembakuan/ Standarisasi Asam Asetat 0,1 M

Alat :
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Pipet ukur 25 ml
  • Buret dan statif
Bahan :
  • Asam asetat 0,1 M
  • Indikator PP
  • Larutan baku NaOH 0,1 M
BACA JUGA : 
Cara Kerja :
  1. Pipet 25 ml asam asetat 0,1 M dari kemasan, masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
  2. Tambahkan 2-3 tetes indikator PP
  3. Siapkan larutan baku NaOH 0,1 M dan masukkan ke dalam buret.
  4. Titrasi larutan asam asetat 0,1 M dengan NaOH 0,1 M. Hentikan titrasi jika sudah terjadi perubahan warna ( merah muda ) dan warna yang muncul tidak menghilang ( selama 15 detik ) oleh pengocokan.
  5. Catat volume NaOH 0,1 M.
  6. Ulangi langkah 1- 4 sebanyak 2 kali. Hitung volume rata-rata pemakaian larutan baku NaOH 0,1 M.
Perhitungan :

Reaksi : CH3COOH + NaOH ------ > CH3COONa + H2O










Contoh :

1. 25 ml asam asetat 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Dari hasil titrasi didapatkan volume pemakaian NaOH 0,1 M sebagai berikut :
Volume NaOH 0,1 M ( ulangan 1 ) = 25, 1 ml
Volume NaOH 0,1 M ( ulangan 2 ) = 25, 2 ml
Volume NaOH 0,1 M ( ulangan 3 ) = 25, 1 ml
Sehingga Volume rata-rata pemakaian  NaOH 0,1 M = 25,13 ml

Maka,
M asam = (1 x 25,13 x 0,1) / ( 1 x 25 ml )
M asam = 2,513 / 25
M asam = 0,10 M
Jadi M asam asetat setelah distandarisasi yaitu 0,10 M.

DAFTAR PUSTAKA

MulyonoH. A. M. (2006). Membuat Reagen Kimia di LaboratoriumBumi AksaraJakarta

STANDARISASI Kalium Permanganat ( KMnO4 )

Standarisasi kalium permanganat dapat dilakukan dengan menggunakan larutan baku natrium oksalat ( Na2C2O4 ) dan larutan baku asam oksalat ( H2C2O4 ).
Metode yang digunakan untuk standarisasi larutan KMnO4 adalah dengan metode titrasi permanganometri. Titrasi permanganometri adalah titrasi yang menggunakan prinsip reaksi reduksi dan oksidasi. Metode ini sering digunakan karena permanganometri merupakan oksidator kuat,dan dalam titrasi ini tidak memerlukan indikator. Adapun kekurangan dari metode ini adalah larutan KMnO4 tidak stabil dalam penyimpanan.

Sebelum dilakukan titrasi larutan natrium oksalat atau asam oksalat ditambahkan dengan asam sulfat 2 N. Fungsi penambahan asam sulfat ini adalah untuk memberikan suasana asam, karena titik akhir titrasi lebih mudah diamati bila reaksi dilakukan dalam suasana asam dan asam sulfat ini tidak dapat bereaksi dengan titran. Penambahan asam HCl dan HNO3 tidak diperbolehkan karena HNO3 merupakan oksidator dan HCl pada suhu 700C akan bereaksi menjadi Cl2.

Setelah penambahan asam sulfat maka larutan natrium oksalat atau asam oksalat dipanaskan pada suhu 700C untuk mempercepat terjadinya reaksi antara KMnO4 dengan natrium oksalat atau asam oksalat karena pada suhu ruangan reaksi antara keduanya berjalan lambat sehingga sulit untuk menentukan titik akhir titrasi.

Standarisasi KMnO4 menggunakan natrium okasalat maupun asam oksalat tidak perlu menggunakan indikator karena KMnO4 sendiri selain bertindak sebagai titran juga bertindak sebagai indikator. Titik akhir hasil titrasi ditunjukkan dengan perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Warna merah muda muncul karena kelebihan ion permanganat. Satu tetes kelebihan ion permanganat akan menimbulkan warna merah muda yang jelas terlihat.

Standarisasi Kalium Permanganat ( KMnO4 ) dengan Natrium Oksalat (  Na2C2O4 )

Senyawa natrium oksalat merupakan standar yang baik untuk permanganat dalam larutan asam. Natrium oksalat dapat diperoleh dengan kemurnian tinggi, non higroskopis, dan stabil pada saat pengeringan. Reaksi antara KMnO4 dengan natrium oksalat sedikit rumit dan berjalan lambat pada suhu ruangan sehingga perlu dilakukan pemanasan sebelum dilakukan titrasi.

** Alat yang digunakan :
- Timbangan analitik ( 4 angka dibelakang koma )
- Statif dan klem
- Buret 50 ml
- Erlenmeyer 125 ml
- Gelas piala 200 ml
- Labu takar 100 ml
- Pipet volum 10 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Pipet tetes
- Kompor listrik
- Termometer
- Batang pengaduk

** Bahan yang digunakan :
- Kalium permanganat ( KMnO4 )
- Natrium oksalat ( Na2C2O4 ), BM=134 gr/mol
- H2SO4 pekat
- Aquadest

** Pembuatan 500 ml KMnO4 0.1 N
- Timbang 1.5803 gram KMnO4 kemudian jadikan volume 1000 ml.
- Dalam gelas piala didihkan larutan tersebut selama 15-30 menit. Dinginkan sampai suhu ruangan.
- Saring dengan krus gooch dan simpan dalam botol reagen coklat.
Diperoleh : 500 ml KMnO4 0.1 N

** Pembuatan 100 ml Na2C2O4 0.1 N
- Timbang dengan tepat 0.67 gram natrium oksalat (yang sudah kering oven), masukkan dalam gelas piala 50 ml dan tambahkan aquadest. Aduk hingga larut.
- Pindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

** Pembuatan 100 ml H2SO4 2 N
- Ambil 5.5 ml asam sulfat pekat, pindahkan dalam gelas piala yang sudah diisi aquadest. Aduk perlahan-lahan.
- Pindahkan ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.

** Standarisasi KMnO4 dengan Natrium Oksalat
- Pasang buret dan diisi dengan KMnO4 0.1 N.
- Diambil 10 ml Na2C2O4 0.1N, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Ditambahkan 20 ml H2SO4 2N.
- Dipanaskan sampai suhu 700C.
- Dalam keadaan panas titrasi larutan tersebut dengan KMnO4 0.1 N.
- Titrasi dihentikan saat terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
- Catat volume hasil titrasi dan percobaan di atas diulang 3x.

** Perhitungan
Diketahui :
V Na2C2O4 = 10 ml
N Na2C2O4 = 0.1 N
V KmnO4 = v ml ( volume hasil titrasi )

N KMnO4 =....?

mol ek KMnO4 = mol ek Na2C2O4








Standarisasi Kalium Permanganat ( KMnO4 ) dengan Asam Oksalat (H2C2O4 )

Selain menggunakan larutan baku natrium oksalat standarisasi kalium permanganat juga bisa dilakukan dengan menggunakan larutan baku asam oksalat. Prosedur kerja hampir sama seperti pada standarisasi dengan larutan baku natrium oksalat.

** Alat yang digunakan :
Analog seperti pada standarisasi dengan natrium oksalat.

** Bahan yang digunakan :
- Kalium permanganat ( KMnO4 )
- Asam oksalat (H2C2O4.2H2O), BM = 126.07 gr/mol
- H2SO4 pekat
- Aquadest

** Pembuatan 500 ml KMnO4 0.1 N
Analog seperti pada standarisasi dengan natrium oksalat.
Atau bisa juga dibaca pada artikel sebelumnya Membuat Larutan Kalium Permanganat 0.1 N ( 0.02 M )

** Pembuatan 100 ml H2SO4 2 N
Analog seperti pada standarisasi dengan natrium oksalat.
Untuk perhitungan jelasnya bisa dibaca pada artikel Membuat Larutan H2SO4 1 N


** Pembuatan 100 ml H2C2O4.2H2O 0.1 N

- Timbang dengan tepat 0.6303 gram asam oksalat, masukkan dalam gelas piala 50 ml dan tambahkan aquadest. Aduk hingga larut.
- Pindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.


** Standarisasi KMnO4 dengan Asam Oksalat

- Pasang buret dan diisi dengan KMnO4 0.1 N.
- Diambil 10 ml H2C2O4 0.1N, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Ditambahkan 5 ml H2SO4 2N.
- Dipanaskan pada suhu 600C - 700C.
Dalam keadaan panas titrasi larutan tersebut dengan KMnO4 0.1 N.
- Titrasi dihentikan saat terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
- Catat volume hasil titrasi dan percobaan diatas diulang 3x.

** Perhitungan
Diketahui :
V H2C2O= 10 ml
N H2C2O= 0.1 N
V KmnO4 = v ml ( volume hasil titrasi )

N KMnO4 =....?

mol ek KMnO4 = mol ek H2C2O4

STANDARISASI Iodium ( I2 ) dengan Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3 )

Iodium tidak mudah larut dalam air ( 0.34 gram per liter pada 25 C ) tetapi mudah larut dalam larutan yang mengandung ion iodida.
Kelemahan pelarut beriodida adalah ion ini dapat teroksidasi oleh O2 dari udara yang dipercepat reaksinya dalam suasana asam atau oleh adaya cahaya., tetapi bersifat lambat dalam suasana netral.
Selain itu, senyawa iodida ( KI ) yang digunakan dipersyaratkan agar bebas dari iodat ( karena iodat bereaksi dengan I - dalam suasana asam dengan membentuk I2 ). Persyaratan ini seharusnya dipenuhi bila larutan I2 dalam KI akan ditetapkan sebagai larutan baku.

Standarisasi Iodium ( I2 ) dengan Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3)

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 250 ml
- Gelas piala 100 ml, 250 ml
- Labu takar 250 ml, 500 ml, dan 50 ml
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Pipet tetes
- Batang pengaduk

Bahan yang digunakan :
- Iodium ( I2 )
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3 )
- Amilum
- Aquadest

** Membuat Larutan Iodium 0.01 N , 500 ml
- Timbang 0.6345 gram iodium + 2 gram KI, masukkan dalam gelas beker 250 ml dan tambahkan aquadest    100 ml. Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar 500 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

** Membuat Larutan Natrium tiosulfat 0.1 N, 250 ml
- Timbang 6.25 gram natrium tiosulfat + 0.2 gram natrium bikarbonat, masukkan dalam gelas piala 250 ml dan tambahkan aquadest 100 ml.  Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan ke dalam labu takar 250 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.

** Membuat Larutan Amilum 1%, 50 ml
-Timbang 0.5 gram amilum/ kanji, larutkan dengan aquadest sampai volume 50 ml.
- Didihkan larutan amilum hingga diperoleh larutan yang agak kental.

** Cara Standarisasi
- Siapkan buret dan isi dengan natrium tiosulfat 0.1 N yang sudah dibakukan/distandarisasi.
- Pipet 25 ml larutan iodium ( I2 ), pindahkan dalam erlenmeyer 250 ml dan encerkan dengan aquadest sampai volumenya 100 ml.
- Titrasi larutan iodium (I2) dengan natrium tiosulfat dan hentikan bila larutan berwarna kuning pucat.
- Tambahkan 5 tetes indikator amilum , homogenkan dan lanjutkan titrasi secara perlahan.
- Hentikan titrasi bila warna biru larutan tepat menghilang.
- Catat volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3x.

** Perhitungan
Diketahui :
Volume I2 = 25 ml
Volume Na2S2O3 = v ml ( volume hasil titrasi )
Na2S2O3 = 0.1 N
N I2 = ....?
Dengan rumus








Contoh :
Dari hasil pengamatan di dapatkan :
V na.tio ul 1 = 2.7 ml
V na tio ul 2 = 2.75 ml
V na tio rata-rata = 2.72 ml

Dengan rumus :
N (I2) = N (na tio)
N1 x V1 = N2 x V2
N1 x 25 ml = 0.1 N x 2.72 ml
N1 = 0.272 / 25
N1 = 0.010 N
Jadi Normalitas I2 adalah 0.010 N

STANDARISASI Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3 )

Larutan Natrium tiosulfat dapat digunakan sebagai larutan baku sekunder untuk standarisasi iodium. Natrium tiosulfat dapat diperoleh dengan mudah dalam keadaan kemurnian yang tinggi, tetapi selalu ada ketidakpastian dari konsentrasi yang kita buat. Untuk itu sebelum digunakan larutan tiosulfat harus distandarisasi terlebih dahulu untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya agar bisa digunakan sebagai larutan baku sekunder.

Standarisasi Natrium tiosulfat ( Na2S2O3 ) dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium dikromat dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganat sebagai larutan standar sekundernya.

Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Iodat

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 125 ml
- Gelas piala 100 ml dan 250 ml
- Labu takar 500 ml, 100 ml, dan 50 ml
- Batang pengaduk
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml dan 25 ml
- Pipet tetes

Bahan yang digunakan :
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3. 5 H2O )
- Kalium iodat ( KIO3 )
- Amilum
- HCl

** Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N, 500 ml
 Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /248.186 x 0.5 ) x 1
gr = 248.186 gr/mol x 0.5 L x 0.1 N
gr = 12.4093 gram
- Timbang 12.4093 gram natrium tiosulfat , larutkan dengan 200 ml aquadest dan tambahkan 0.2 gram natrium bikarbonat ( sebagai pengawet ). Aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar volume 500 ml dan tambahkan aquadest sampai tanda  batas.
Diperoleh : 500 ml natrium tiosulfat 0.1 N

** Membuat Kalium Iodat ( KIO3 ) 0.1 N , 100 ml
Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /214.016 x 0.1 ) x 6
gr = (214.016 gr/mol x 0.1 L x 0.1 N) / 6
gr = 0.3567 gram
- Timbang 0.3567 gram KIO3, larutkan dengan aquadest 50 ml. Aduk hingga larut.
- Masukkan larutan KIO3 ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.
Diperoleh : 100 ml Kalium iodat 0.1 N

** Membuat Larutan HCl 2 N, 100 ml
- Isi labu takar 100 ml dengan aquadest 50 ml.
- Ambil 16.5 ml HCl pekat dengan pipet ukur, pindahkan ke dalam labu takar yang telah diisi aquadest tadi.
- Tambahkan aquadest sampai tanda batas.
 Diperoleh : 100 ml HCl 2 N

Untuk rumus cara menghitung bisa di buka pada artikel sebelumnya : Cara Membuat Larutan HCl 1 N

** Membuat Larutan Indikator Amilum 1%, 50 ml
- Timbang 0.5 gram amilum/kanji, larutkan dalam 50 ml aquadest.
- Didihkan larutan tersebut hingga diperoleh larutan amilum yang agak kental.

** Cara Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Iodat
- Siapkan buret 25 ml dan isi dengan larutan natrium tiosulfat 0.1 N.
- Dipipet 25 ml kalium iodat 0.1 N dan masukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml.
- Ditambahkan 2 gram KI, goyang perlahan - lahan hingga KI larut sempurna.
- Ditambahkan 10 ml HCl 2 N dan segera titrasi dengan natrium tiosulfat.
- Saat warna kuning hampir menghilang, hentikan titrasi dan tambahkan 5 tetes indikator amilum.
- Lanjutkan titrasi sampai warna biru tepat menghilang.
- Catat volume natrium tiosulfat hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

Sebelum ditambahkan HCl larutan KIO3 berwarna bening, dan setelah ditambah HCl 2 N larutan berubah menjadi kuning. Saat warna kuning hampir menghilang, ditambahkan indikator amilum larutan berubah menjadi biru. Setelah warna biru menghilang titrasi dihentikan.

** Perhitungan
Diketahui :
V KIO3 = 25 ml
N KIO3 = 0.1 N
V tio = v ml ( volume hasil titrasi )
N tio = Normalitas tio yang dicari...?

Dengan rumus :








Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium Dikromat

Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Erlenmeyer 500 ml
- Gelas piala 100 ml 
- Labu takar 100 ml
- Batang pengaduk
- Pipet volum 25 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Pipet tetes


Bahan yang digunakan :
- Natrium tiosulfat ( Na2S2O3. 5 H2O )
- Kalium dikromat ( K2Cr2O7 )
- Amilum
- HCl

** Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N, 500 ml
Cara membuat larutan sama seperti di atas pada standarisasi natrium tiosulfat dengan kalium iodat.

Artikel Sebelumnya : Membuat Natrium Tiosulfat 0.1 N

** Membuat Kalium dikromat ( K2Cr2O7 ) 0.1 N , 100 ml
Dengan rumus :
N = (gr/Mr xV) x valensi
0.1 N = ( gr /294.19 x 0.1 ) x 6
gr = (294.19 gr/mol x 0.1 L x 0.1 N) / 6
gr = 0.49 gram
- Timbang 0.49 gram K2Cr2O7, larutkan dengan aquadest 50 ml. Aduk hingga larut.
- Masukkan larutan K2Cr2O7 ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas.
Diperoleh : 100 ml Kalium dikromat 0.1 N

Artikel Terkait : Membuat Larutan Natrium Dikromat 0.1 N

** Membuat Larutan HCl 2 N, 100 ml
Cara membuat larutan sama seperti di atas pada standarisasi natrium tiosulfat dengan kalium iodat.

** Membuat Larutan Indikator Amilum 1%, 50 ml
- Timbang 0.5 gram amilum/kanji, larutkan dalam 50 ml aquadest.
- Didihkan larutan tersebut hingga diperoleh larutan amilum yang agak kental.

** Cara Standarisasi Natrium Tiosulfat dengan Kalium dikromat
- Siapkan buret 25 ml dan isi dengan larutan natrium tiosulfat 0.1 N.
- Dipipet 25 ml kalium dikromat 0.1 N dan masukkan ke dalam erlenmeyer 500 ml.
- Ditambahkan 2 gram KI, goyang perlahan - lahan hingga KI larut sempurna.
- Ditambahkan 10 ml HCl 2 N dan encerkan sampai 200 ml.
- Dititrasi dengan natrium tiosulfat 0.1 N hingga berwarna kuning muda.
- Saat warna kuning muda, hentikan titrasi dan tambahkan 5 tetes indikator amilum.
- Lanjutkan titrasi secara perlahan, dan hentikan titrasi saat warna biru menghilang dan warna hijau muda muncul.
- Catat volume natrium tiosulfat hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Perhitungan
Diketahui :
K2Cr2O7 = 25 ml
K2Cr2O7 = 0.1 N
tio = v ml ( volume hasil titrasi )
tio = Normalitas tio yang dicari...?

Dengan rumus :

STANDARISASI H2SO4


Seperti pada artikel sebelumnya ( Standarisasi HCl ) dijelaskan bahwa standarisasi diperlukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dari suatu larutan.

Standarisasi Larutan H2SO4

Standarisasi larutan H2SO4 dapat dilakukan dengan menggunakan :
  • Larutan baku natrium tetraborat / boraks
  • Larutan baku natrium hidroksida
Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Pipet volum 10 ml
- Pipet tetes
- Erlenmeyer 100 / 125 ml

Bahan yang digunakan :
- H2SO4 pekat (96%)
- Natrium tetraborat
- Natrium hidroksida
- Indikator MO dan PP

Standarisasi Larutan H2SO4 0.1 M ( 0.2 N ) dengan Natrium tetraborat/Boraks

** Membuat larutan H2SO4 0.1 M (0.2 N) sebanyak 1 liter
- Masukkan aquadest kira-kira 500 ml ke dalam labu takar 1000 ml.
- Ambil H2SO4 pekat dengan menggunakan pipet ukur sebanyak 6 ml, masukkan ke dalam labu  takar tadi.
- Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

Diperoleh : Larutan H2SO4 0.1 M , 1 Liter.

** Membuat larutan baku primer natrium tetraborat/boraks 0.05 M (0.1N) sebanyak 100 ml
dengan rumus :
M = gr/ (Mr x V)
0.05 M = ( gr / ( 381.647 gr/mol x 0.1 L )
gr = (381.647 x 0.1 L x 0.05 M)
gr = 1.908 gram.
- Timbang dengan tepat boraks sebanyak 1.908 gram, larutkan dengan aquadest dalam gelas piala 50 ml.
- Pindahkan larutan ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.

** Membuat larutan NaOH 0.1 M sebanyak 1 liter
- Timbang 4 gram NaOH, masukkan dalam gelas piala 100 ml. Tambahkan aquadest, aduk hingga larut sempurna.
- Masukkan larutan NaOH tersebut ke dalam labu takar 1000 ml. Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
- Kemudian standarisasi larutan NaOH 0.1 M tersebut. Untuk cara standarisasi NaOH bisa baca artikel : Standarisasi Larutan NaOH

** Cara Standarisasi
- Isi buret dengan larutan H2SO4 0.1 M.
- Dipipet 25 ml boraks 0.05 M, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Tambahkan 2 tetes indikator MO.
- Kemudian dititrasi dengan larutan H2SO4 0.1 M sampai terjadi perubahan warna
- Catat volumenya dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2B4O7 + H2SO4 + 5 H2O -------> Na2SO4 + 4 H3BO3
M boraks = 0.05 M
V boraks = 25 ml
V H2SO4 = v ml
M H2SO4 = .....?













Standarisasi Larutan H2SO4 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Hidroksida ( NaOH )

** Cara Standarisasi
  1. Isi buret dengan larutan baku NaOH 0.1 M 
  2. Pipet 25 ml larutan H2SO4 0.1 M ke dalam erlenmeyer 125 ml.
  3. Tambahkan 2 tetes indikator PP.
  4. Titrasi larutan H2SO4 tersebut dengan NaOH 0.1 M. Hentikan titrasi apabila terjadi  perubahan warna.
  5.  Catat Volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : H2SO4 + 2 NaOH -----> Na2SO4 + 2 H2O
M NaOH = 0.1 M
V NaOH = v ml ( volume hasil titrasi )
V H2SO4 = 25 ml
M H2SO4 = ....?











DAFTAR ACUAN

HAM, Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

STANDARISASI HCl

Dalam membuat larutan dengan konsentrasi tertentu seringkali dihasilkan konsentrasi yang tidak tepat. Untuk itu diperlukan standarisasi larutan.
Standarisasi dilakukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dari suatu larutan. Standarisasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi asam basa yaitu proses penambahan larutan standar dengan larutan asam.

Larutan Baku Primer dan Sekunder

Standarisasi larutan dilakukan dengan menggunakan larutan baku primer atau dengan larutan baku sekunder.
Larutan baku adalah larutan yang sudah diketahui dengan pasti konsentrasinya. Larutan baku ada dua macam yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder.

Larutan baku primer adalah larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu : 
  • memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, 
  • kering, stabil, tidak higroskopis,
  • mudah larut dalam air, dan 
  • mempunyai massa ekivalen yang tinggi. 
Pada pembuatan larutan baku primer penimbangan harus teliti dan dilarutkan dengan volume yang tepat dengan menggunakan labu takar. Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku primer adalah Natrium tetraborat ( boraks ), asam benzoat, dan asam oksalat.

Larutan baku sekunder adalah larutan yang zat terlarutnya tidak harus zat yang memiliki tingkat kemurnian tinggi. Larutan baku sekunder konsentrasinya ditentukan berdasarkan standarisasi dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer. Zat yang dapat digunakan sebagai larutan baku sekunder adalah natrium hidroksida ( NaOH ) dan asam klorida ( HCl ). Larutan baku sekunder umumnya tidak stabil sehingga perlu distandarisasi ulang setiap minggu.

Standarisasi Larutan HCl 

Standarisasi larrutan HCl dapat dilakukan dengan menggunakan :
  • larutan baku natrium tetraborat / boraks ( Na2B4O7.10H2O )
  • larutan baku natrium carbonat ( Na2CO3 )
  • larutan baku natrium hidroksida ( NaOH )
Alat yang digunakan :
- Statif dan klem
- Buret 25 ml
- Pipet volum 10 ml
- Pipet ukur 5 ml
- Pipet tetes
- Gelas piala/ gelas beker 50 ml dan 500 ml
- Erlenmeyer 100/125 ml

Bahan yang digunakan :
- HCl pekat ( 37 % )
- Boraks
- Natrium carbonat
- Natrium hidroksida
- Indikator MO dan PP

Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Tetraborat / Boraks

** Membuat Larutan HCl 0.1 M sebanyak 1000 ml
Ambil HCl pekat ( 37% ) sebanyak 9 ml, masukkan  ke dalam labu takar 1000 ml yang sebelumnya telah diberi aquadest. Tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
Untuk cara menghitungnya bisa buka artikel sebelumnya di Cara Membuat Larutan HCl

** Membuat larutan boraks 0.05 M ( 0.1 N )
dengan rumus :
M = gr/ (Mr x V)
0.05 M = ( gr / ( 381.647 gr/mol x 0.1 L )
gr = (381.647 x 0.1 L x 0.05 M)
gr = 1.908 gram.
- Timbang dengan tepat boraks sebanyak 1.908 gram, larutkan dengan aquadest dalam gelas piala 50 ml.
- Pindahkan larutan ke dalam labu takar, tambahkan aquadest sampai tanda batas. Gojog hingga homogen

** Membuat larutan indikator Metil Orange ( MO )
untuk membuat larutan MO silahkan buka link ini Membuat Larutan Indikator pada nomor 20.

** Cara Standarisasi
- Isi buret dengan larutan HCl 0.1 M.
- Dipipet 25 ml boraks 0.05 M, masukkan ke dalam erlenmeyer.
- Tambahkan 2 tetes indikator MO.
- Kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0.1 M sampai terjadi perubahan warna ( dari kuning menjadi merah ).
- Catat volumenya dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.

** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2B4O7 + 2 HCl + 5 H2O -----> 2 NaCl + 4 H3BO3
M boraks = 0.05 M
V boraks = 25 ml
V HCl = a ml ( volum rata-rata dari 3x ulangan )
M HCl = ....?











Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Carbonat ( Na2CO3 )

** Cara Standarisasi 
  1. Timbang botol timbang kosong + tutup. catat hasilnya.
  2. Timbang 0,2 gram Na2CO3 kering dalam botol timbang bertutup. 
  3. Pindahkan Na2CO3 tersebut ke dalam erlenmeyer 100 ml.
  4. Timbang lagi botol timbang + tutup ( perbedaan antara penimbangan awal dan akhir merupakan berat Na2CO3 yang terpindahkan ke erlenmeyer).
  5. Masukkan aquadest 50 ml ke dalam erlenmeyer yang berisi Na2CO3 tersebut. Aduk hingga larut sempurna.
  6. Beri 2 tetes indikator MO
  7. Titrasi dengan larutan HCl 0,1 M. Hentikan titrasi apabila sudah terjadi perubahan warna ( dari kuning menjadi merah muda ).
  8. Catat volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : Na2CO3 + 2 HCl ------> 2 NaCl + H2O + CO2
Mr Na2CO3 = 105,994 gr/mol
Massa Na2CO3 = a gram
Vol HCl hasil titrasi = v ml = v liter ( satuan diubah ke dalam liter )
M HCl = ....?
 Dengan menggunakan rumus perbandingan mol :













Standarisasi Larutan HCl 0.1 M (0.1 N) dengan Natrium Hidroksida ( NaOH )

** Cara Standarisasi
  1. Isi buret dengan larutan baku NaOH 0.1 M ( untuk cara membuat larutan NaOH dan standarisasinya bisa di buka pada artikel Cara Membuat Larutan NaOH 0,1 M dan Standarisasi Larutan NaOH ).
  2. Pipet 25 ml larutan HCl 0.1 M ke dalam erlenmeyer 125 ml.
  3. Beri 2 tetes indikator PP.
  4. Titrasi larutan HCl tersebut dengan NaOH 0.1 M. Hentikan titrasi apabila warna merah muda yang muncul tidak menghilang (selama 15 detik ) oleh pengocokan.
  5.  Catat Volume hasil titrasi dan ulangi percobaan diatas sebanyak 3 kali.
** Cara Menghitung
Reaksi yang terjadi : NaOH + HCl -----> NaCl + H2O
V HCl = 25 ml
V NaOH = v ml ( volume hasil titrasi )











Itulah beberapa cara standarisasi HCl. Semoga artikel ini bermanfaat, jika ada yang ingin menyampaikan saran, masukan, atau pertanyaan bisa komentar pada kolom di bawah ini. Terimakasih.

DAFTAR ACUAN

HAM, Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

Standarisasi Larutan NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat

Setelah membuat larutan NaOH 0,1 N maka untuk mengetahui nilai normalitas sesungguhnya maka larutan tersebut perlu distandarisasi.


Standarisasi NaOH bisa menggunakan Kalium phtalat atau asam oksalat.

     1.      Standarisasi 0.1 N NaOH dengan Kalium Phtalat

·    Timbang dengan teliti 0,5 gram Kalium phtalat ( BM = 204,2 gr/mol) yang telah dipanaskan pada oven dengan temperatur 110 °C selama 4 jam, kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Buat tiga kali ulangan.
·     Kristal Kalium phthalat dilarutkan dalam 25 ml aquades dan dipanaskan perlahan-lahan sampai semua larut.
·     Ditambahkan 2 – 3 tetes indikator phenolphthalein, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH yang akan di standarisasi sampai warna merah jambu.
·     Perhitungan N NaOH adalah :
N NaOH = gr Kalium phthalat / ( 204,2 x vol NaOH ), vol NaOH diubah dalam liter.

Contoh
Diketahui :
 Berat kalium phtalat = 0,5 gram
 BM = 204,2 gr/mol
 Valensi = 1
 Setelah titrasi  didapatkan data sbb:
ml NaOH ul 1 = 23,5 ml
ml NaOH ul 2 = 23 ml
ml NaOH ul 3 = 23,2 ml
rata – rata ml NaOH = 23,2 ml = 0.0232 liter ( ubah volum ke dalam satuan liter )

Perhitungan :
N NaOH = ( 0,5 gram x 1 ) / (204,2 x 0,0232 )
             = 0,5/4,74  = 0,105
Maka Normalitas NaOH adalah 0,105 N


     2.      Standarisasi 0.1 N NaOH dengan asam oksalat

·    Timbang dengan teliti 0,1 gram asam oksalat ( C2H2O4.2H2O ), BM = 126 gr/mol.
Kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan tambah aquadest 25 ml. Aduk sampai larut dan tambahkan 2 – 3 tetes indikator phenolphthalein.
·    Larutan asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH yang akan distandarisasi sampai warna merah jambu timbul secara menetap (15 detik) walaupun cairan digoyang.
·    Perhitungan N NaOH adalah :
N NaOH = ( gr asam oksalat x 2)/ ( 126 x vol NaOH ), vol NaOH diubah dalam liter.

Contoh
Diketahui :
Berat asam oksalat = 0,1 gram
BM = 126 gr/mol
Valensi = 2
Setelah titrasi  didapatkan data sbb:
ml NaOH ul 1 = 15,5 ml
ml NaOH ul 2 = 15 ml
ml NaOH ul 3 = 14,8 ml
rata – rata ml NaOH = 15,1 ml = 0.0151 liter ( ubah volum ke dalam satuan liter )

Perhitungan :
N NaOH = ( 0,1 gram x 2 ) / (126 x 0,0151 )
             = 0,2/1,9  = 0,105


Maka Normalitas NaOH adalah 0,105 N